Financial planning

Apa sih sesuatu dalam rumah tangga yang sungguh urgent untuk diperhatikan? Hiyap betolll apalagi kalau bukan tentang keuangan, mulai dari cara dapetin, sampe cara ngabisinnya, huahahaha yang terakhir serahin sama saya, jagonya nih xixixi… =))

Well, di keluarga saya, suami dan saya sendiri termasuk tipe2 manusia yang doyan ngabisin duit, ya tujuannya sih bagus, tapi kalau tidak diatur ternyata bikin dompet kita megap2 kena penyakit asma, bikin ngos2an, kadang bikin pusing apalagi kalau tiba2 butuh dana cepat dalam jumlah yang tak sedikit.

Makanya, suami mulai wanti2 untuk nyuruh saya melakukan pencatatan keuangan, kalau perlu sampai mengatur pengeluaran, dan mengatur nafsu belanja belanji sesuatu yang nggak/belum dibutuhin, hufffttt… #tahanNapas. Apalagi, semakin bertambahnya usia rumah tangga kami semakin membuka pintu2 keluarnya pundi2 dari kantong keuangan kami, semisal; nyumbang nikah, nyumbang lairan, nyumbang sunatan, kebutuhan sehari2, perawatan barang2 pribadi (seperti motor, mobil, kalau punya, hehe. Dulu pas lajang ortu yang nanggung, begitu nikah ya ditanggung sendiri dong), beli baju, dan lain-lain.

Makanya (lagi), sekarang lagi sibuk ngabisin kuota inet mobile buat donlod aplikasi finansial, cari2 info di dunia maya, dsb. Maklum, sebelumnya saya jarang tuh meribetkan diri ngatur duit, makanya suka kelabakan kalau tau2 nggak punya money gara2 kalap pas kaya, hahaha…

Dan, aplikasi yg saya pakai sekarang masih di excel and aplikasi andro yg kemarin saya donlod.

image

Foto: salah satu penampakan halaman aplikasi financial planner andro.

Yang sudah rapi pencatatan keuangannya boleh share yuuukkk… makasihhh.. ^^

Advertisements

Pelukan untuk Ibu Baru

Beberapa hari terakhir saya sedang konsentrasi membaca buku yang berjudul Chicken Soup for the New Mom’s Soul. Dan ketika sampai pada bab tentang fase menjadi ibu baru, tak kusangka ternyata beberapa ibu (mungkin lebih banyak lagi di dunia ini) merasa begitu kesepian, terasing, dan terisolasi di kehidupan barunya sebagai seorang ibu baru. Bahkan, pada seorang ibu yang telah memimpikan menjadi ibu sejak ia sendiri masih anak-anak!!

Buku

Rada khawatir juga, sehingga dalam beberapa detik saya hampir memutuskan untuk berhenti membaca buku tersebut demi menghalau galau yang tidak diundang. Tetapi beberapa detik berikutnya ada gagasan yang tiba-tiba timbul untuk mengatasi kegalauan-kegalauan ibu baru. Mau tahu apa itu??? Mau tahu aja atau mau tahu banget? *mulai kepo deh 😛

Ya, jadi karena menjadi ibu baru kadang terasa berat bagi beberapa orang, kenapa tidak kita bentuk semacam club/komunitas parenting saja? Formatnya jadi mirip komunitas homeschooling gitu. Jadi dari sekarang nih kita kumpulin ibu-ibu yang sedang hamil untuk menjadi target anggota club. Ngapain aja kegiatan di club ini? Ya tentunya nggak jauh-jauh sama yang ada hubungannya dengan ke-orangtua-an alias parenting. Ntar ada rekreasi bareng, seminar kecil-kecilan, arisan, pelatihan, dan yang pasti ada sharing momentsnya dong. Gimana seru nggak kedengarannya?

Hanya saja bingung juga mau mulai darimana? Sebenernya sudah ada lo komunitas parenting di Jogja di fesbuk, cuman saya nggak tahu ada kopdarnya nggak, atau acara-acara pertemuan gitu, atau hanya sebatas grup sharing online saja.

Kalau ada ibu hamil di sini, kira-kira tertarik bikin gak? Yuk!!

Tepat pada Waktunya

Blogwalking ke http://www.rumahinspirasi.com mendapat quote yang dari lubuk hati saya yang terdalam, saya menyetujuinya;

 

Untuk hal-hal yang sifatnya akademis, prestasi, dan kompetisi; kami memilih untuk menundanya. Kami percaya, kalau karakter anak kuat dan dia terbiasa memiliki kebiasaan baik, hal-hal lain bisa dipelajari dengan cepat pada waktunya (rumahinspirasi)

 

Tengok dua kata yang saya bold di atas, ya, setiap anak pasti memiliki waktunya sendiri. Yang penting sebagai pendamping (orangtua) kita memberikan stimulus yang cukup kepadanya. Happy educating everebodehhh… 😉

Tulisanku Seputar Parenting

Malam ini, saya iseng jalan-jalan di blog multiply saya dan membaca-baca ulang beberapa tulisan (terutama) tentang dunia parenting yang pernah saya buat. And u know what? Ternyata saya rada jago juga ya merangkai kalimat menjadi sebuah artikel yang layak dibaca, ahahaha~ =P

 

Kalau ada kesempatan, sila mampir ke link berikut >> http://keluargabahgia.multiply.com

Semoga manfaat yak!! Boleh kok sharing sama saya 😉

*update 28 maret 2013
Dikarenakan multiply sdh tak support blog(ger), maka otomatis link di atas sudah tak dapat dibuka lagi, back up data saya lakukan di http://www.sukmadanty.blogspot.com. Monggo diacak-acak lagi isinya ^___^

Belajar Yuk, Nak!

*Nah ya, sekarang suka blank setiap online mau ngapain, padahal sebelumnya sudah diniatin “mau posting atau blogwalking”.

Menurut hasil pemeriksaan USG, hari ini tepat 18 weeks!! Artinya jalan 5 bulan, dan artinya pulaa… sudah waktunya praktekin ilmu dari buku yang saya baca. Buku tersebut adalah “Cara Baru Mendidik Anak dalam Kandungan” karya Mr. Van der Carr -and friend (selanjutnya saya sebut buku pertama), dan “Panduan mengajar Bayi Anda Membaca Al-Quran Sejak Dalam Kandungan” karya ust Musthofa AY. dan istri (selanjutnya saya sebut buku kedua), that’s it!!

Buku pertama saya hampir menamatkannya 2 kali, meski err… masih banyak hal yang terlewat dari pemahaman saya, sedang buku kedua saya lebih suka langsung njujug (bahasa Indonesianya apa ya? hehe) bagian aplikasinya, alias teknisnya. Hehe. Dari buku yang saya baca tersebut, sebetulnya intinya sama; STIMULASI PRA-LAHIR. Wong teknis yang diajarkannya hampir sama (tapi buku pertama lebih detail). Nah perbedaannya sudah pasti tertebak, tentu saja orientasi out put yang diinginkan dari program pembelajaran ini; buku pertama lebih sekuler (maksudnya lebih umum, duniawi, macam >> menjadikan baby besoknya lebih cerdas, fokus, dan sabar, dll), sedangkeun buku kedua orientasinya sangat relijius; mengenalkan anak lebih dini dengan Al Quran, supaya kelak ia dimudahkan Allah dalam menghafal ayat-ayat-Nya (Aamiin).

Lalu, mana yang saya pilih? tentunya saya memilih menggabungkan dua buku tersebut dalam mempraktekkannya, serta mendahulukan point-point dalam buku kedua. Karena toh, dalam buku kedua ini terdapat rujukan dari buku pertama.

Emang bagaimana sih prakteknya? Ya ngajak si janin ngobrol, belajar, dan ndengerin kosakata yang ingin kita ajarkan padanya. Sama seperti yang dilakukan bumil-bumil sebelumnya. Mengajak ngomong janin dalam perut adalah sesuatu yang tidak asing bagi saya, maksudnya, saya pun sudah jauh hari dari pernikahan membaca artikel tentang manfaat ibu mengajak janinnya ngobrol. Saya pun pernah bertekad untuk nggak malu-malu ngomong sendiri (kan kayak ngomong sama tubuh sendiri tuh? Hehe) di tempat-tempat umum sekali pun! Tetapi jujur deh, sejak saya dinyatakan hamil, sampai UK 4 bulan, saya masih agak gerogi kalau ngomong sama janin saya.

Dan hari ini adalah hari pertama mengajak janin saya ngobrol dan belajar, kegiatan ini saya lakukan di halaman belakang, supaya tidak didengar dan dilihat orang rumah, apalagi orang lain, hahaa~. Karena menurut buku di atas saya harus melakukannya 3 hari sekali, maka nanti siang saya akan kembali mengajak janin saya belajar. Semoga dia merespon yah!! Aamiin…

Oh iya, setelah mengajak janin saya belajar, saya sms ayahnya;

“Aslm. ayahh… aku abis belajar sama Bunda. Nanti kalau ayah pulang, aku mau belajar sama ayah ya… ^^”

balasan ayahnya,

“Wa’alaikumsalam. Iya… Nanti ayah ajarin blast design ya?!…”

Dan saya hanya bisa >> -__-“”

Well para calon Bunda, mari sharing perihal didik mendidik anak sejak kandungan toww… supaya generasi yang kita lahirkan betul-betul cerdas dan soleh/ah. Aamiin..

MBLAQ Hello Babby ep 4: Membuka Isi Hati Anak

Sebelumnya saya minta maaf karena tak akan membahas apa, bagaimana, dan pertanyaan lainnya tentang program televisi dari Korea Selatan ini.Hati saya terlanjur berkeinginan untuk membahas tentang “isi hati anak”.

Mungkin kita sering merasa bahwa anak itu kosong, alias tidak memiliki emosi. Oh, bukan, mungkin kita nggak sama sekali menganggap seperti itu, tetapi kita sering menyangka anak tidak memiliki emosi sekaya orang dewasa. Dan tahukah sodara-sodara? Perkiraan itu salah besar!! Justru karena kesucian jiwanyalah yang membuat anak memiliki lebih banyak emosi lebih dari perkiraan kita.

Anak bisa merasakan sedih, senang, sebal, bosan marah, kecewa dengan sangat baik, lebih baik dari kita. Makanya, jika salah satu (atau lebih) emosi tersebut berkesan dalam hatinya, maka ia akan menghantui sepanjang kehidupannya. Tentu masing-masing dari kita pernah memiliki memori yang tidak bisa kita lupakan saat kita masih kanak-kanan bukan? Apa coba? Mengapa kita sangat mengingatnya meski telah berlalu sekian tahun? karena emosi yang kuat saat itu kita rasakan!

Saya bukan ahli psikologi memang, namun pengalaman masa kecil saya plus pengalaman menjadi instruktur sekolah rumah, ditambah referensi dari bacaan saya, saya bisa menyimpulkan hal tersebut.

Dan sekarang mari kita masuk pada intisari judul tulisan saya ini, Membuka Isi Hati Anak. Ini hanyalah contoh kisah sederhana untuk memahami apa yang saya kemukakan di awal. Kisahnya bermula dari seorang anak perempuan manis berusia 3 tahun yang menunjukkan emosi negatifnya; sedih, pendiam, dan menarik diri. Kemudian oleh personil MBLAQ yang bertugas menjadi ayahnya mendatangi konsultan anak untuk mengetahui isi hati Dayoung sebenarnya.

Bu guru (konsultan anak) tersebut mengajak Dayoung berbicara dari hati ke hati menggunakan peraga sebuah boneka dan potongan-potongan bentuk emosi seperti smile, sad, angry, dsb. Kemudian Bu guru menanyakan kepada Dayoung tentang persaannya saat mereka (Dayoung, Leo, Lauren, dan MBLAQ) bermain di kolam renang, Dayoung terlihat sedih. Kemudian Bu guru meminta Dayoung untuk memilih bentuk-bentuk emosi yang dirasakan Dayoung saat itu, Dayoung mengambil bentuk sad 2 buah kalau tidak salah, dan memasukkannya ke dalam perut boneka yang lebih besar.

Kemudian Dayoung ditanya lagi tentang alasan Dayoung merasa sedih, dan kepada Bu guru dia berkisah,

“Aku merasa sedih karena appa G.O. bermain air dengan Lauren, bukan denganku”

Juga ketika dinner Dayoung tidak mau makan apa-apa, kemudian menangis karena appa Mir menyuruhnya duduk di luar lingkaran sambil mendorong Dayoung menjauh dari meja.

“Aku sedih, dan kesal karena appa Mir mendorongku seperti ini, aku tidak mau makan karena aku sudah kenyang”

Heuu, mendengarkan pengakuan anak sekecil itu, saya menjadi semakin menyadari bahwa dalam dunia anak yang antah berantah itu, terdapat kepekaan emosi yang harus dijaga dan dipahami oleh orang dewasa.

Jogja, 7 Juni 2012

Sukmadanty

Dua Duka Anak Manusia

Iya, hari ini berhasil nangis berkali-kali dengan dua sebab yang berbeda. Pertama, disebabkan membaca buku Hingga Detak Jantungku Berhenti by Nurul F. Huda, dan kedua dikarenakan program acara “Orang Pinggiran” di trans tv (kalau ndak salah).

Srroooottt!!!

Sebab pertama, kenapa saya bisa sampai menangis berurai air mata? Tentu saja krena kisah nyata yang beliau abadikan dalam buku tersebut sangat menyentuh hati. Bayangkan saja, hidup sebagai manusia berkatup buatan di jantungnya, menjalani operasi yang sangat menentukan hidup dan matinya, hingga sejak itu bertubi-tubi datanglah ujian dari Allah khusus untuknya; 2 kali kehamilan yang beresiko, operasi tulang akibat kecelakaan, operasi mengeluarkan jarum dari kakinya, hingga yang terakhir menjadi single mother bagi dua buah hatinya. Masya Allah, ujian yang tidak main-main. Saya sendiri tidak sanggup barang membayangkan jika kejadian demi kejadian tersebut menimpa hidup saya, atau orang-orang yang saya cintai. Astaghfirullah… ampuni kelemahan dan kekurangan hamba-Mu ini Ya Rabb…

Sebab kedua, setelah puas menyelesaikan buku mba Nurul Huda seharian (sampai sore menjelang), saya menyetel televisi dan menonton program “orang pinggiran”, di mana seperti biasa program tersebut menghadirkan keuletan sekaligus “penderitaan” tokohnya. Kali ini, tokohnya adalah 3 bersaudara, Kakak sulungnya puus sekolah “hanya” gara-gara tidak sanggup melunasi seragam olahraga! Oh my! Akhirnya dia bekerja membantu sang ibu mencari uang demi kelanjutan hidup mereka sekeluarga (minus ayah, karena sang ayah meninggalkan keluarga kecil ini tanpa sebab dan tanpa kabar berita, miris). Begitu pun adik-adiknya, kelas 6 dan 2 SD sudah bekerja keras mencari uang yang tak pernah lebih dari sepuluh ribu per hari, yang dilakukannya sepulang sekolah. Tidak ada kata bermain bersama kawan-kawan. Fiuuhh… Sedihhhh rasanya melihat kenyataan bahwa banyak anak-anak Indonesia yang masih tak tersentuh pendidikan, kecukupan, dan kesejahteraan.

Saya jadi berandai-andai, Bapak Presiden SBY (selain mengurusi dinamika politik dalam dan luar negeri) itu setidaknya mengetahui hal ini; banyaknya anak Negeri yang putus sekolah, kemudian beliau mengutus, atau memerintahkan kepada lembaga atau orang-orangnya (Kan beliau orang tertinggi di Negeri ini, pasti punya banyak staff atau orang-orang kepercayaan) untuk mengusut, dan mengatasi problem ini. Kalau perlu, sekali-kali (sekali-kali saja, saya tahu beliau sudah terlalu SIBUK) beliau sendiri yang mendatangi anak-anak itu dan memberikan semangat serta menyodorkan langsung bantuannya kepada anak-anak malang itu.

Ahh… tetapi itu hanyalah impian saya yang entah kapan akan mewujud nyata. Lagi-lagi, harus tertunduk menyadari lemahnya diri ini, bahkan tak sanggup mengulurkan tangan sendiri untuk membantu meringankan beban mereka. Setidaknya di jauh lubuk hati, saya berdoa, khidmat, dalam, dan penuh perasaan, suatu saat nanti anak keturunan sayalah yang akan berada di garisan depan untuk membantu anak-anak kurang mampu untuk berdaya manfaat bagi Negaranya. Aamiin, aamiin Ya Rabbal ‘alamiin…

Jogja, 5 Juni 2012

Dalam kesedihan yang panjang,

Sukmadanty

Bagaimana Anak Belajar Bicara?

Alhamdulillah nemu artikel bagus binti menarik, hehehe. Saya jadi teringat dengan murid saya yang pernah bersama saya sejak usia kira-kira 1 tahun, di mana ia dulu masih berjalan dengan tertatih-tatih, goyang sana goyang sini, belum lancar berbicara, sekarang sudah 4 tahun usianya, tak terasa sungguh =)

Monggo saya copas dimari njih, selamat menikmati ^__^ Continue reading

Lagi-lagi Ditemukan Balita Merokok

Siang ini, kembali saya mendengar kabar tentang seorang balita di wilayah Blora, Jawa tengah menjadi perokok aktif. Dalam sehari Wahyu (nama anak tersebut) mampu menghabiskan sebungkus batang rokok. Masya Allah!! Saya sempat mendengar dan melihat dialog antara wartawan televisi dengan ibunya, kurang lebih beginilah yang dicurhatkan sang ibu kepada media:

“Anak itu kalau ndak dikasih ya nangis mas, sudah saya marahin, saya pukul, saya cubit, tapi tetep nggak mempan”

Saya jujur miris mendengar pengakuan si ibu. Dipukul? Dicubit? Apa yang ada di benak sang ibu? Sekarang, –dan sebenarnya sejak dahulu, melakukan “kekerasan” terhadap anak untuk menghukum dan mendidik anak, terbukti tidak ada manfaatnya. Sekalipun jika sang anak terlihat manut dan nurut, namun “paku-paku” yang ditancapkan sang ibu di hatinya tidak akan pernah hilang, dan itu akan ia kenang dan mungkin dijadikan pedoman dalam mendidik anak keturunannya nanti. Nau’udzubillah!

Saya memahami, seorang ibu pastilah tidak mungkin membenci anaknya, selalu melakukan yang terbaik demi masa depan sang anak. Tetapi tak bisakah kita mengerti bahwa mencintai itu tidak melulu perkara memanjakan, kasihan, bersikap lemah terhadap kemauan anak, menuruti segala permintaannya. Cinta yang kita miliki harus tegas, sekaligus lembut.

Ingat, anak apalagi jika masih balita, membutuhkan pengasuhan yang positif dari orang dewasa seperti kita. Ia masih bersusah payah memahami antara perilaku baik dan buruk, perbuatan terpuji ataukah tercela. Mari kita turut menjadi bagian dari orang dewasa yang peduli terhadap jiwa suci yang dimiliki kanak-kanak .

 

Salam prihatin,

Sukmadanty