MBLAQ Hello Babby ep 4: Membuka Isi Hati Anak

Sebelumnya saya minta maaf karena tak akan membahas apa, bagaimana, dan pertanyaan lainnya tentang program televisi dari Korea Selatan ini.Hati saya terlanjur berkeinginan untuk membahas tentang “isi hati anak”.

Mungkin kita sering merasa bahwa anak itu kosong, alias tidak memiliki emosi. Oh, bukan, mungkin kita nggak sama sekali menganggap seperti itu, tetapi kita sering menyangka anak tidak memiliki emosi sekaya orang dewasa. Dan tahukah sodara-sodara? Perkiraan itu salah besar!! Justru karena kesucian jiwanyalah yang membuat anak memiliki lebih banyak emosi lebih dari perkiraan kita.

Anak bisa merasakan sedih, senang, sebal, bosan marah, kecewa dengan sangat baik, lebih baik dari kita. Makanya, jika salah satu (atau lebih) emosi tersebut berkesan dalam hatinya, maka ia akan menghantui sepanjang kehidupannya. Tentu masing-masing dari kita pernah memiliki memori yang tidak bisa kita lupakan saat kita masih kanak-kanan bukan? Apa coba? Mengapa kita sangat mengingatnya meski telah berlalu sekian tahun? karena emosi yang kuat saat itu kita rasakan!

Saya bukan ahli psikologi memang, namun pengalaman masa kecil saya plus pengalaman menjadi instruktur sekolah rumah, ditambah referensi dari bacaan saya, saya bisa menyimpulkan hal tersebut.

Dan sekarang mari kita masuk pada intisari judul tulisan saya ini, Membuka Isi Hati Anak. Ini hanyalah contoh kisah sederhana untuk memahami apa yang saya kemukakan di awal. Kisahnya bermula dari seorang anak perempuan manis berusia 3 tahun yang menunjukkan emosi negatifnya; sedih, pendiam, dan menarik diri. Kemudian oleh personil MBLAQ yang bertugas menjadi ayahnya mendatangi konsultan anak untuk mengetahui isi hati Dayoung sebenarnya.

Bu guru (konsultan anak) tersebut mengajak Dayoung berbicara dari hati ke hati menggunakan peraga sebuah boneka dan potongan-potongan bentuk emosi seperti smile, sad, angry, dsb. Kemudian Bu guru menanyakan kepada Dayoung tentang persaannya saat mereka (Dayoung, Leo, Lauren, dan MBLAQ) bermain di kolam renang, Dayoung terlihat sedih. Kemudian Bu guru meminta Dayoung untuk memilih bentuk-bentuk emosi yang dirasakan Dayoung saat itu, Dayoung mengambil bentuk sad 2 buah kalau tidak salah, dan memasukkannya ke dalam perut boneka yang lebih besar.

Kemudian Dayoung ditanya lagi tentang alasan Dayoung merasa sedih, dan kepada Bu guru dia berkisah,

“Aku merasa sedih karena appa G.O. bermain air dengan Lauren, bukan denganku”

Juga ketika dinner Dayoung tidak mau makan apa-apa, kemudian menangis karena appa Mir menyuruhnya duduk di luar lingkaran sambil mendorong Dayoung menjauh dari meja.

“Aku sedih, dan kesal karena appa Mir mendorongku seperti ini, aku tidak mau makan karena aku sudah kenyang”

Heuu, mendengarkan pengakuan anak sekecil itu, saya menjadi semakin menyadari bahwa dalam dunia anak yang antah berantah itu, terdapat kepekaan emosi yang harus dijaga dan dipahami oleh orang dewasa.

Jogja, 7 Juni 2012

Sukmadanty

Advertisements

Menjadi Orangtua Efektif Yuk!

Curhat sebentar ya, pemirsa?

Sedang merenung-renung, mengamat-amati, dan memikir-mikiri (o-ow yang terakhir bahasa mana ya? :p), pertemanan yang terjalin di dunia maya ternyata rerata itu-itu saja, sejak saya menonaktifkan fesbuk lama, kontak dengan teman nyata di dunia maya sama sekali terputus, Astaghfirullah sedihnya. Padahal mereka adalah aset berharga saya, tempat di mana kami menyambung kenyataan dengan kemayaan (halah apa lagi inii…).

Dan sekarang, di blog, di tuiter, di fesbuk (baru) saya, teman yang mejeng sama! Owh tidaak!! Ya sudahlah, semoga hidupku bukan sesuatu yg maya aja, hehe…

Ngomong-ngomong, saya sudah posting jurnal bagus banget deh! Keren! (maaf yak, siapa lagi yang akan memuji kalau tidak diri sendiri :P). Jurnal berikut juga saya terbitkan di multiply. Bercerita tentang bagaimana menjadi orangtua efektif; mendengar aktif dan pesan aku, adalah dua kunci utama yang saya bahas. Selamat menyimaak!! 😉

Continue reading

Peran Ayah dalam Keluarga

Malam-malam begini teringat banyak kejadian yang mencuri pikiranku, banyak sekali, tetapi kebetulan yang lagi ingin dibahas tentang ayah. Latar belakang kisah ini ketika aku mengamati sebuah keluarga lengkap ada ayah-bunda-anak, namun saat kucermati lebih dalam lagi, si anak jarang sekali kulihat respek terhadap kehadiran si ayah, terkesan cuek, bahkan tak peduli. Ya aku mengerti terkadang anak kalau sudah keasyikan bermain suka enggak “mendengarkan diri” atas suara-suara di sekitarnya. Tetapi ini? menurutku ada sedikit kesalahan, semoga saja prasangkaku yang merasa hanya ada sedikiiit kesalahan ini benar.

Itu satu, kedua, anak tersebut suka sekali menyebut dirinya cantik, padahal harusnya ganteng (emang anaknya ganteng), suka mengaku cewek, padahal ya cowok! Awalnya saat aku berbicara dengan salah seorang kerabatnya, aku menganggapnya sebuah “pencarian jati diri” seorang balita yang lumrah sehingga pada waktunya Insya Allah dia akan menyadari siapa dirinya. Continue reading

Memanipulasi Pikiran Anak :p

Mungkin bukan hanya anak kecil yang bisa kita perlakukan seperti ini, bahkan pada beberapa kasus, orang dewasa pun dapat kita pengaruhi. Kasus termudah yang dapat kita temukan adalah hipnotis, di mana kita bisa mengatur pikiran orang yang kita inginkan. Mempengaruhi pikiran anak kecil adalah hal termudah yang bisa kita lakukan tanpa harus memiliki ilmu hipnotis. Sangat sederhana, bahkan saking sederhananya, orang yang belum berpengalaman pun mampu mempraktekkannya langsung.

Cukup dengan menukar option yang kita lontarkan, maka hampir dapat dipastikan anak akan memilih option terakhir yang kita sebutkan. Mudah ya? Tetapi ada juga anak yang tak mudah dimanipulasi, kalau dia inginkan itu maka apa pun tak bisa merubahnya, boro-boro ia menuruti apa yang kita katakan, justru yang terjadi adalah tantrum temper. Ada pengalaman yang sebenarnya tidak ada di buku mana pun yang suka saya praktekkan, bagaimana caranya membuat anak memilih apa yang kita inginkan. Continue reading

Kenapa Ada Anak Nakal?

“Bu… kenapa sih ada anak yg bisa nakaall banget…!! Emang nakal itu,penyakit turunan yah?”

“Hah?!…”

“Kalo bukan keturunan… bawaan dari kecil yah?”

“Kamu tahu? bayi yang terlahir di dunia itu dalam keadaan bersih, tanpa dosa..”

“Kalau gitu, kutukan yah?!”

===

Itu adalah sebuah percakapan yang dapat kita lihat di film petualangan sherina (hah, jadul yah? :P). Ceritanya waktu itu Sherina curhat ke sang ibu tentang Sadam, teman di sekolah barunya. Bagaimana Sherina nggak geram, sejak pertama masuk kelas saja Sadam sudah mengusilinya. Kalau jaman saya masih SD dulu (pas lihat film ini), kayaknya perasaan yang dialami Sherina itu juga saya rasakan, rasanya jengkel abis! Huh! KOk bisa ada anak yang nakal kayak gitu?

Nah kan? jadi topik deh! Kenapa ada anak nakal? Kalau ada orang yang expert di dunia pendidikan pasti sangat tidak suka nih kalau saya pakai istilah “nakal”, kalau banyak akal sih iya! (iklan). Apalagi menyuarakan kata “nakal” di depan si anak, bisa-bisa otak bawah sadarnya langsung meng-acc dan meneruskan informasi kalau dia adalah nakal ke semua fungsi-fungsi hati dan fisiknya. Haduh!

Kan seperti pesan sang ibu dalam film di atas, setiap anak yang lahir itu dalam keadaan bersih. Jika kita temui “varian anak nakal”, ada dua kemungkinan, pertama yaitu anak tersebut sedang “belajar” sesuatu dan kedua adalah jiwanya terpenjara atau tersakiti. Sebenarnya saya rada susah mencari istilah yang tepat untuk alasan kedua. Makanya di sini pentingnya orang dewasa memahami perasaan si anak. Anak berbuat salah itu sangat wajar, karena ia bukanlah orang dewasa mini yang memiliki pengalaman lebih kaya dibanding kita.

Ajak Ballita Bermain Warna

Ajak balita bermain dengan mengeksplorasi warna-warna. Kegiatan ini tidak hanya menghiburnya, tetapi juga mengajarinya mengenal dan mengingat warna.

Pasti seru jika balita bisa bermain sambil belajar. Terutama dalam masa-masa emasnya, banyak yang harus dipelajari balita. Dengan permainan, maka pelajaran bagi balita menjadi menyenangkan. Salah satunya pengenalan terhadap warna, Anda bisa menggunakan permainan-permainan ini untuk balita belajar mengenal warna: Continue reading

Personality For Couples (Bukan Resensi Buku)

Beberapa waktu yang lalu saya beli buku tentang “Personality Plus for Couples”, yang dilatarbelakangi oleh kejadian yang sudah saya ceritakan di mari.

Sebenarnya sudah hampir purna saya membacanya, tinggal beberapa lembar lagi saya akan menamatkannya, tapi ternyata godaan untuk menambah koleksi buku di rumah semakin kuat akhir-akhir ini sehingga sampai sekarang pun belum sempat membuka kembali halaman yang terlewat oleh kerlipan mata saya 😀

Sampulnya sih biasa,

Koleksi buku Psikologi-ku

Tapi kalimatnya sangat mudah dicerna oleh orang awam ilmu psikologi seperti saya. Nah pasti pada penasaran bahasan yang diusung sama tante Flerence Littauer kan? Tenang-tenang… sedikit saya akan gambarkan untuk anda 😀

Kita mulai dari si Sanguinis yak, karakter ini tidak asing lagi tentunya, bagaimana tidak? kehebohan orang berkarakter sanguin populer di mana-mana. Intinya, di mana ada gelak tawa di situ sanguin berada :D. Di dalam kehidupan rumah tangga, mereka memiliki hasrat bawaan untuk bersenang-senang dan menikmati hidup. wow bayangkan jika mereka hidup dengan si melankolis yang bawaannya serius atau si koleris yang cenderung bergerak cepat, tegas, dan cepat, eh udah ya :p. Kebutuhan mereka tentang perhatian kadang menyiksa dirinya sendiri, apalagi jika ia tak mendapatkannya dari pasangan hidupnya, ou… so tragic!!

Lalu, Melankolis. si Kalem yang serba teratur ini memandang kehidupan serba terencana. orang yang pelupa, telatan, tidak terencana bisa membuat si Melankolis marah. Hasrat dasar kebutuhan emosional si melankolis ini adalah dukungan dan mengerjakan segala sesuatunya dengan teratur.

Seorang Koleris, umumnya adalah penggila kegiatan/pekerjaan, apa pun Ia mampu mengerjakan banyak tugas dalam satu waktu. semua dituntutnya untuk serba cepat dan sesuai dengan keinginan. Mereka praktis dan sederhana, “kerjakan sekarang juga apa yang ku katakan, ayo bergerak!”, mungkin akan membuat anda yang berkepribadian sanguinis sedikit frustasi 😀

Terakhir, kepribadian Phlegmatis, anda juga tak asing bukan dengan kepribadiannya yang santai seperti di pantai, slow seperti di pulo :p. ya ya ya… sikap santainya ini akan membuat kesal anda yang berkepribadian koleris.

Oke, di manakah posisi anda saat ini? jangan khawatir melihat begitu banyak perbedaan-perbedaan kepribadian tersebut. karena di buku yang saya ulas ini menyediakan berbagai macam solusinya, tapi, baca sendiri ya!!! hehehehe 🙂