Lagi-lagi Ditemukan Balita Merokok

Siang ini, kembali saya mendengar kabar tentang seorang balita di wilayah Blora, Jawa tengah menjadi perokok aktif. Dalam sehari Wahyu (nama anak tersebut) mampu menghabiskan sebungkus batang rokok. Masya Allah!! Saya sempat mendengar dan melihat dialog antara wartawan televisi dengan ibunya, kurang lebih beginilah yang dicurhatkan sang ibu kepada media:

“Anak itu kalau ndak dikasih ya nangis mas, sudah saya marahin, saya pukul, saya cubit, tapi tetep nggak mempan”

Saya jujur miris mendengar pengakuan si ibu. Dipukul? Dicubit? Apa yang ada di benak sang ibu? Sekarang, –dan sebenarnya sejak dahulu, melakukan “kekerasan” terhadap anak untuk menghukum dan mendidik anak, terbukti tidak ada manfaatnya. Sekalipun jika sang anak terlihat manut dan nurut, namun “paku-paku” yang ditancapkan sang ibu di hatinya tidak akan pernah hilang, dan itu akan ia kenang dan mungkin dijadikan pedoman dalam mendidik anak keturunannya nanti. Nau’udzubillah!

Saya memahami, seorang ibu pastilah tidak mungkin membenci anaknya, selalu melakukan yang terbaik demi masa depan sang anak. Tetapi tak bisakah kita mengerti bahwa mencintai itu tidak melulu perkara memanjakan, kasihan, bersikap lemah terhadap kemauan anak, menuruti segala permintaannya. Cinta yang kita miliki harus tegas, sekaligus lembut.

Ingat, anak apalagi jika masih balita, membutuhkan pengasuhan yang positif dari orang dewasa seperti kita. Ia masih bersusah payah memahami antara perilaku baik dan buruk, perbuatan terpuji ataukah tercela. Mari kita turut menjadi bagian dari orang dewasa yang peduli terhadap jiwa suci yang dimiliki kanak-kanak .

 

Salam prihatin,

Sukmadanty

Advertisements

Waktu-waktu Diijabahi Doa Kita

ketika hujan:

ثنتان ما تردان : الدعاء عند النداء ، و تحت المطر

“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Albani di Shahih Al Jami’, 3078)

ketika safar:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

“Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir, (3) do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini)

Cara Bijak Mengatasi Jerawat

Ngomongin jerawat yuks! Secara saya sedang jerawatan nih, jadi pas banget!! :p

Tetapi karena kenyataannya saya bukan ahli kecantikan, bukan ahli kulit, apalagi dokter, bukaannn!!! tidakkkk!!! jangannn… *hoy mbak, plis deh…

Oiya maap maap, sampai mana tadi? oh ya, karena aku bukanlah superstar, kaya dan terkenal, na na na na na… *Ini kalo diilustrasikan sebuah panggung seminar, pasti saya sudah kehabisan audience.

Intinya, apa yang saya ceritakan adalah murni pengalaman sendiri tanpa campur tangan Pemerintah Indonesia *Apa urusan mereka mbak?* Ya nggak ada sih, setidaknya Pemerintah Indonesia ada Mentri Kesehatannya, yang menjamin kesehatan kulit rakyatnya, sehingga prosentase jerawat rakyat akan berkurang hingga point 50 %. Aamiin.

Jadi para pembaca yang budiman dan budimin, jika anda memiliki permasalahan jerawat seperti saya pada umumnya, ada baiknya anda simak baik-baik petuah saya ini, syaratnya hanya satu, jenis kulit anda sama dengan punya saya. Kalau tidak sama, segeralah bertobat dan tutuplah halaman blog saya dengan segera, karena saya tidak menjamin jika anda tidak segera menutup blog ini, anda akan addict dan meneruskan membacanya hingga tuntas. Ingat jangan salahkan saya! Continue reading

Melunakkan Kerasnya Hati

Tulisan berikut saya nukilkan langsung dari buku berjudul Rahasia Kematian, Alam Akhirat & Kiamat karya Imam Al Qurthubi. Menurut para Ulama, hati tidak dapat mengambil manfaat dari ziarah kubur, apalagi hati yang keras. Karenya sebaiknya ia mengatasinya dengan empat hal.

Pertama, rajin mengaji di majelis-majelis taklim untuk mendengarkan nasehat, pelajaran, peringatan, cerita orang-orang soleh, dan lain sebagainya. Hal itu bisa melunakkan hati.

Kedua, mengingat kematian sebagai suatu peristiwa yang pasti akan melenyapkan semua kenikmatan, memisahkan dari keluarga serta handai taulan, dan membuat anak-anak menjadi yatim.

Continue reading

Mencari Semangat di Belantara Kesunyian

Kenapa saya butuh semangat? karena keadaan saya yang bekerja sendirian memang tak mudah bund2 untuk membangun keistiqmahan untuk terus semangat dalam bekerja, maksud bekerja di sinilah adalah berkarya, bersinergi, dan lain sebagenya.

Sebenarnya ada beberapa formula yang saya yakini dapat membangkitkan semangat dan mendorong pekerjaan saya cepat selesai, yakni:

1. Rajin Silaturahim. Biasanya pas silaturahim kita jadi menyampaikan dan atau mendengarkan curcol-an. Nah dari situ kita biasanya jadi membandingkan dengan diri sendiri, Kalau curcolan temen kita itu baik dan penuh kata2 positif niscaya menjadi semangatlah kita. Andai pun curcol-an teman kita itu bersifat mengenaskan, kita jadi tambah bersyukur karena keadaan kita lebih baik darinya.

2. Membunuh rasa malas dalam diri. Caranya? Continue reading

Berapa yang Kita Sisakan untuk Hak Sodara Kita? #Renungan Jilid 2

Hai Bund2, selamat pagi! 🙂 Sehat yah! Alhamdulillah Saya juga masih bersemangat pagi ini, meski ya… Mas Atha, murid Homeschooling saya sudah tak bersama saya hari ini. Paling tidak saya sudah cukup menemukan si HIKMAH dan belajar banyak dari seorang Atha.

Pagi ini, saya ingin menyampaikan uneg-uneg saya yang kedua, yaitu tentang sedekah. Berapa bagian dari harta kita yang telah sampai pada ahlul hak? Astaghfirullah, kalau ditanya seperti itu, maka akan muncul jawaban yang memalukan dari lisan saya. Padahal Allah telah menjanjikan banyak keutamaan-keutamaan dari sedekah yang kita lakukan. Bukan hanya harta kita yag dilipatgandakan, namun juga keutamaan yang bernilai ukhrowi yang tak mampu digantikan dengan seluruh isi dunia ini. Continue reading

Adab Menasehati Saudara Kita

Berawal dari maraknya nasihat-nasihat yang bertebaran di forum-forum socmed  dan blog (hihihi… maaf, jadi teringat catatan teman-teman di blog), dari seseorang kepada seseorang (dengan terang-terangan sampai hanya dengan menyindir, tapi parahnya kita tahu siapa yang dimaksud/dituju dengan masihat terbukanya tersebut), semoga artikel ini bermanfaat. Kalau ada yang merasa, semoga menjadi perhatian temans!

 

MediaMuslim.Info.Nasehat menasehati menuju kebenaran harus digalakkan, bagi yang dinasehati seharusnya ia berterima kasih kepada orang yang telah menunjukkan kekurangan dan kesalahannya, hanya saja hal ini jarang terjadi, pada umumnya manusia tidak suka disalahkan apalagi kalau teguran itu disampaikan kepadanya dengan cara yang tidak baik.

Seorang pemberi nasehat haruslah mengetahui metode yang baik agar nasehatnya dapat diterima oleh orang lain. Diantara metode nasehat yang baik adalah memberi nasehat kepada orang lain secara rahasia tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam kesempatan ini akan kami nukilkan penjelasan para ulama tentang adab yang satu ini.

Imam Ibnu Hibban (wafat tahun 534 H) berkata, Nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelum ini, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah dengan cara rahasia, tidak boleh tidak, karena barangsiapa yang menasehati saudaranya dihadapan orang lain maka berarti dia telah mencelanya, dan barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia maka dia telah memperbaikinya. Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun, lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan menyampaikan dengan maksud mencelanya.

Kemudian Imam Ibnu Hibban menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan, ia berkata, Saya berkata kepada Mis”ar, ”Apakah engkau suka apabila ada orang lain memberitahumu tentang kekurangan-kekuranganmu?” Maka ia berkata, ”Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangan-kekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku maka saya tidak senang, tapi apabila yang datang kepadaku adalah seorang pemberi nasehat maka saya senang”.

Kemudian Imam Ibnu Hibban berkata bahwa Muhammad bin Said al Qazzaz telah memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Mansur telah menceritakan kepada kami, Ali ibnul Madini telah menceritakan kepadaku, dari Sufyan ia berkata, Talhah datang menemui Abdul Jabbar bin Wail, dan di situ banyak terdapat orang, maka ia berbicara dengan Abdul Jabbar menyampaikan sesuatu dengan rahasia, kemudian setelah itu beliau pergi. Maka Abdul Jabbar bin Wail berkata, ”Apakah kalian tahu apa yang ia katakan tadi kepadaku?” Ia berkata, ”Saya melihatmu ketika engkau sendang shalat kemarin sempat melirik ke arah lain”.

Imam Ibnu Hibban berkata, Nasehat apabila dilaksanakan seperti apa yang telah kami sebutkan akan melanggengkan kasih sayang, dan menyebabkan terealisasinya ukhuwah.

Imam Ibnu Hazm (wafat tahun 456H) berkata, Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasehat, baik yang diberi nasehat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung. Apabila engkau memberi nasehat maka nasehatilah secara rahasia, jangan dihadapan orang lain, dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung, kecuali apabila orang yang dinasehati tidak memahami isyaratmu maka harus secara terus terang. Janganlah engkau menasehati orang lain dengan syarat nasehatmu harus diterima. Apabila engkau melampaui adab-adab tadi maka engkau yang dzalim bukan pemberi nasehat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukuwah. Continue reading