Dua Duka Anak Manusia

Iya, hari ini berhasil nangis berkali-kali dengan dua sebab yang berbeda. Pertama, disebabkan membaca buku Hingga Detak Jantungku Berhenti by Nurul F. Huda, dan kedua dikarenakan program acara “Orang Pinggiran” di trans tv (kalau ndak salah).

Srroooottt!!!

Sebab pertama, kenapa saya bisa sampai menangis berurai air mata? Tentu saja krena kisah nyata yang beliau abadikan dalam buku tersebut sangat menyentuh hati. Bayangkan saja, hidup sebagai manusia berkatup buatan di jantungnya, menjalani operasi yang sangat menentukan hidup dan matinya, hingga sejak itu bertubi-tubi datanglah ujian dari Allah khusus untuknya; 2 kali kehamilan yang beresiko, operasi tulang akibat kecelakaan, operasi mengeluarkan jarum dari kakinya, hingga yang terakhir menjadi single mother bagi dua buah hatinya. Masya Allah, ujian yang tidak main-main. Saya sendiri tidak sanggup barang membayangkan jika kejadian demi kejadian tersebut menimpa hidup saya, atau orang-orang yang saya cintai. Astaghfirullah… ampuni kelemahan dan kekurangan hamba-Mu ini Ya Rabb…

Sebab kedua, setelah puas menyelesaikan buku mba Nurul Huda seharian (sampai sore menjelang), saya menyetel televisi dan menonton program “orang pinggiran”, di mana seperti biasa program tersebut menghadirkan keuletan sekaligus “penderitaan” tokohnya. Kali ini, tokohnya adalah 3 bersaudara, Kakak sulungnya puus sekolah “hanya” gara-gara tidak sanggup melunasi seragam olahraga! Oh my! Akhirnya dia bekerja membantu sang ibu mencari uang demi kelanjutan hidup mereka sekeluarga (minus ayah, karena sang ayah meninggalkan keluarga kecil ini tanpa sebab dan tanpa kabar berita, miris). Begitu pun adik-adiknya, kelas 6 dan 2 SD sudah bekerja keras mencari uang yang tak pernah lebih dari sepuluh ribu per hari, yang dilakukannya sepulang sekolah. Tidak ada kata bermain bersama kawan-kawan. Fiuuhh… Sedihhhh rasanya melihat kenyataan bahwa banyak anak-anak Indonesia yang masih tak tersentuh pendidikan, kecukupan, dan kesejahteraan.

Saya jadi berandai-andai, Bapak Presiden SBY (selain mengurusi dinamika politik dalam dan luar negeri) itu setidaknya mengetahui hal ini; banyaknya anak Negeri yang putus sekolah, kemudian beliau mengutus, atau memerintahkan kepada lembaga atau orang-orangnya (Kan beliau orang tertinggi di Negeri ini, pasti punya banyak staff atau orang-orang kepercayaan) untuk mengusut, dan mengatasi problem ini. Kalau perlu, sekali-kali (sekali-kali saja, saya tahu beliau sudah terlalu SIBUK) beliau sendiri yang mendatangi anak-anak itu dan memberikan semangat serta menyodorkan langsung bantuannya kepada anak-anak malang itu.

Ahh… tetapi itu hanyalah impian saya yang entah kapan akan mewujud nyata. Lagi-lagi, harus tertunduk menyadari lemahnya diri ini, bahkan tak sanggup mengulurkan tangan sendiri untuk membantu meringankan beban mereka. Setidaknya di jauh lubuk hati, saya berdoa, khidmat, dalam, dan penuh perasaan, suatu saat nanti anak keturunan sayalah yang akan berada di garisan depan untuk membantu anak-anak kurang mampu untuk berdaya manfaat bagi Negaranya. Aamiin, aamiin Ya Rabbal ‘alamiin…

Jogja, 5 Juni 2012

Dalam kesedihan yang panjang,

Sukmadanty

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s