Menjadi Orangtua Efektif Yuk!

Curhat sebentar ya, pemirsa?

Sedang merenung-renung, mengamat-amati, dan memikir-mikiri (o-ow yang terakhir bahasa mana ya? :p), pertemanan yang terjalin di dunia maya ternyata rerata itu-itu saja, sejak saya menonaktifkan fesbuk lama, kontak dengan teman nyata di dunia maya sama sekali terputus, Astaghfirullah sedihnya. Padahal mereka adalah aset berharga saya, tempat di mana kami menyambung kenyataan dengan kemayaan (halah apa lagi inii…).

Dan sekarang, di blog, di tuiter, di fesbuk (baru) saya, teman yang mejeng sama! Owh tidaak!! Ya sudahlah, semoga hidupku bukan sesuatu yg maya aja, hehe…

Ngomong-ngomong, saya sudah posting jurnal bagus banget deh! Keren! (maaf yak, siapa lagi yang akan memuji kalau tidak diri sendiri :P). Jurnal berikut juga saya terbitkan di multiply. Bercerita tentang bagaimana menjadi orangtua efektif; mendengar aktif dan pesan aku, adalah dua kunci utama yang saya bahas. Selamat menyimaak!!😉

Lagi, sebuah pencerahan untuk kita semuanya. Tulisan ini akan berjalan menuju sebuah pelajaran penting sebagai orangtua, maksudku juga sebagai individu dewasa. Kekacauan komunikasi yang selama ini kita bina dengan orangtua kita bisa jadi ada sebabnya dalam diri kita, sebabnya adalah diri kita! Ah, tapi tak hendak membicarakannya sebagai anak, aku kan… sudah sedikit dewasa, jadi kita bicara tentang efektifitas komunikasi orangtua kepada anak yah.

Buku yang aku pegang ini, masih milik Thomas Gordon, tentang bagaimana menjadi orangtua efektif –Argh! jatah menulisku sudah habis sebenarnya, tapi tetap menulis sajalah–. Sebentar, jika ada yang pernah bingung membaca QN saya sebelumnya; orangtua g boleh takut mengakui perasaan2 emosionalnya terhadap anak, anak yg dimanja & terbiasa dipenuhi kebutuhanny tnp mmperhatikan hak orangtua itu sendiri akan tumbuh mjd ortu yg menuntut dan mementingkan diriny sendiri (MOE dlm thomas gordon, membuatku sedikit, ya menyesal &kecewa mendalam…), Maka inilah kesempatanmu untuk memahaminya dari uraian-uraian yang aku buat ini, memang tidak panjang, tetapi semoga dapat dimengerti.

Saat kita berbicara dengan anak, seringkali pesan yang kita katakan seakan tidak pernah sampai. Yang ada hanya konfrontasi, bantahan, atau perlawanan, ya memang tidak selalu, tetapi sering kan? Kenapa pesan tersebut tidak sampai kepada anak? karena anak-anak sebagaimana umumnya bukanlah mahluk yang mudah mengutarakan maksud/perasaannya, ia perlu dibantu, sebagai orangtua, kita seharusnya mengenal kode-kode yang ditunjukkan anak-anak tersebut kepada kita.

Misalnya, seorang anak untuk menghilangkan perasaan lapar (keadaan tidak seimbang dalam tubuhnya) akan mengkomunikasikan sesuatu yang diperkirakan akan memberinya makan. Dia tidak dapat melukiskan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam dirinya (rasa laparnya), karena lapar adalah suatu proses fisiologis yang kompleks, yang terjadi dalam tubuh organisme. Karenanya, untuk menyatakan rasa laparnya kepada orang lain, dia harus memilih beberapa isyarat yang “mempresentasikan” (sebutlah encoding) rasa lapar. Misalkan anak memilih isyarat “Kapan makanan siap, Bu?” Maka jika ibu mengurai isyarat itu dengan tepat, dia akan mengerti bahwa anaknya lapar. Tetapi jika si ibu mengartikan isyarat itu bahwa anak ingin cepat-cepat makan agar bisa segera bermain sebelum tidur, anaknya akan salah mengerti; dan proses komunikasi terputus. dari sinilah timbulnya masalah; anak tidak mengetahui hal ini, demikian pula ibunya, karena anak tidak dapat melihat apa yang dipikirkan ibunya dan ibunya juga tidak dapat melihat apa yang terjadi dalam diri anaknya.

Itu, adalah sebuah gambaran sederhana, aslinya, lebih rumit lagi, karena beberapa faktor yang akan mempengaruhi proses keberhasilan komunikasi orangtua-anak. So, di sinilah pentingnya “mendengar aktif”. Apa itu mendengar aktif? Mendengar aktif adalah metode komunikasi yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengutarakan maksud dan perasaannya tanpa dihakimi dan dinilai oleh pendengarnya –orangtua–, termasuk perasaan-perasaan negatif yang mereka rasakan. Ini menolong anak-anak menjadi tidak terlalu takut terhadap perasaan-perasaan negatif, dan bonusnya adalah ia mengembangkan hubungan yang hangat antara orangtua dan anak. Nah, biasanya di sinilah ujian bagi mulut-mulut yang biasa tidak tahan untuk mengomentari cerita –perasaan– anak. Karena prinsip mendengar aktif adalah mengesampingkan perasaan dan penilaian pribadi atas apa yang dilakukan/dirasakan oleh anak. Bagaimana? menyulitkan bukan? Hehe.

Nah, apa hubungannya dengan kematangan emosi? Sebenarnya kalau anda sudah membacanya dengan hati-hati, anda dapat menarik benang merahnya, tetapi mungkin pembahasan tentang “pesan aku” berikut lebih akan memahamkan. Pesan aku ini adalah metode komunikasi yang tidak dapat dipisahkan jika digunakan dalam rangkaian “mendengar aktif”. “Pesan aku” menyasar pada penyampaian pesan tentang perasaan yang sebenarnya aku rasakan, dan bukan kamu lakukan/rasakan. Sederhana saja, jika seorang anak menghambur-hamburkan makan siangnya di lantai, siapa kira-kira yang bermasalah? Anak? Bukan! Anak sih hanya merasa melakukan sebuah eksperimen, dia tidak sedang membuat masalah kok. Justru eksperimen si anak membuat orangtua mempunyai masalah; aku sudah membersihkan lantai beberapa menit yang lalu, dan sekarang kotor lagi, aku capek, dan aku sedih! See? sekarang masalahnya ada pada orangtua, dan peran “pesan aku” di sini jelas untuk menyampaikan pesan yang benar dan tepat tentang perasaan ibu terhadap perilaku anaknya; “Ibu (aku) sedih banget melihat lantai yang baru saja dibersihkan sudah kotor lagi”. Coba kalau kita gunakan pesan kamu; “Kenapa kamu lakukan itu? kamu sudah besar, bukan bayi lagi!”, ini adalah kode yang buruk bagi perasaan capek dan sedih orangtua. Karena pesan seperti itu justru diterima anak sebagai penilaian negatif tentang dirinya.

Wow, sepertinya sudah panjang sekali, semoga dapat memberikan pencerahan yah! Aamiin…

___
Telingaku berdesing-desing oleh teriakan anak-anak yang bagaikan peluru di medan peperangan, ramai sekali! padahal jika dihitung, mereka hanya tiga “butir” anak kecil. Aku sampai tidak mendengar apa yang dibaca anak di hadapanku, alif ba ta… ah entahlah! Kesabaranku sudah menyalakan alarmnya, lalu aku berseru dengan edikit tegang,
“Uzzi, rozan, mahfud!!! Kalau kalian berteriak dan bermain-main seperti itu, mbak nggak bisa mendengar ngajinya Topiq!”, jelas sekali suaraku, aku rasa, nyatanya trio kwek-kwek yang biasanya tidak bisa diganggu gugat itu terdiam seribu bahasa, menurunkan “senjata” mereka masing-masing, lalu beringsut ke pojokan; baca surat Al Ikhlas!! Aku bahkan mendengar salah satu dari mereka memberi usul,
“Eh, ayo moco al ikhlas terus, nek ping 3 maca kan jarene mas wikan ganjarane podo karo khataman!!” (Artinya: Eh, ayo baca al ikhlas terus, kalau baca 3 kali kan katanya mas Wikan pahalanya sama dengan khatam!!)
Dan yang lain menanggapi positif; “kita khatam berkali-kali malam ini!”
Aku tersenyum, tidak pernah kurasakan sore seindah sore itu.

4 responses

  1. huhu…bunda kejam. hoho.

    mau curhat jg : saya pernah ngajar TPA 2 tahun pas jaman kuliah. Memahami prilaku anak harus cepat dan tanggap. Bagaimana mengambil hati mereka,bagaimana mendisiplinkan,bagaimana saat menjadi teman,menjadi orang tua.

    saya pernah kalang kabut mendisiplinkan sebutir preman cilik di TPA yg selalu membuat onar dan mengganggu teman2nya. sampai saya baca suatu buku yg kemudian saya praktekkan dan efektif. Saya menjadikan dia leader kedisiplinan. Dengan tanggung jawab sebagai pemimpin dan mengamankan teman2nya agar tidak ribut. Dengan reward sebuah bintang dia menjalankan tugasnya dengan baik dan perasaan bangga karena menjadi pemimpin di TPA. dan anak2 yg lain juga tenang. hehehe

    saya mengambil kesimpulan kl preman cilik ini membuat keonaran karena dia butuh perhatian dan apresiasi. bukannya hukuman. dr tulisan bunda berarti itu mungkin pesan yg ingin disampaikan preman cilik itu. hmmm?

    Dan terakhir ketika saya ke sana setelah lama pensiun. mereka udah gede2. dan adik2 cantik udah pada jadi gadis semua. yg dulu sering main gendong dan naik dibelakang saya. sekarng masih mau digendong g ya? hahaha…pangling saya…

    • Waow curhatnya panjang bener mas Ivan, haha😀
      Eh, tapi strategi yg dilakukan mas Ivan boljug tuh. Kayaknya di mana2 klo qt bs pegang yg mbaurekso alias “pemimpinnya” maka smw jg bakalan kepegang yah, hehehe…

      Iya si, kdg anak2 di rumah “merasa” kurang terfasilitasi jd mencari “fasilitas di luar.

      Haha, wah gendong istrinya aja mas Ivan, hihihi…😀

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s