Peran Ayah dalam Keluarga

Malam-malam begini teringat banyak kejadian yang mencuri pikiranku, banyak sekali, tetapi kebetulan yang lagi ingin dibahas tentang ayah. Latar belakang kisah ini ketika aku mengamati sebuah keluarga lengkap ada ayah-bunda-anak, namun saat kucermati lebih dalam lagi, si anak jarang sekali kulihat respek terhadap kehadiran si ayah, terkesan cuek, bahkan tak peduli. Ya aku mengerti terkadang anak kalau sudah keasyikan bermain suka enggak “mendengarkan diri” atas suara-suara di sekitarnya. Tetapi ini? menurutku ada sedikit kesalahan, semoga saja prasangkaku yang merasa hanya ada sedikiiit kesalahan ini benar.

Itu satu, kedua, anak tersebut suka sekali menyebut dirinya cantik, padahal harusnya ganteng (emang anaknya ganteng), suka mengaku cewek, padahal ya cowok! Awalnya saat aku berbicara dengan salah seorang kerabatnya, aku menganggapnya sebuah “pencarian jati diri” seorang balita yang lumrah sehingga pada waktunya Insya Allah dia akan menyadari siapa dirinya.

Nah, sekarang, apa hubungan dari kedua masalah yang aku utarakan di atas? Tentu saja ada; peran ayah! atau kalau mau lebih universal lagi, peran laki-laki di dalam sebuah keluarga (bisa adik, kakak, paman, dsb). Semoga bukan akunya saja yang terlalu mencari-cari hubungan atas kasus di atas, tetapi semoga nantinya ketika aku menemukan kasus serupa, aku bisa membuka catatan kecil ini. Kembali tentang ayah, ternyata kehadiran sosok ayah (dengan segala karkater yang melekat padanya; berwibawa, maskulin, melindungi, menjaga, mengayomi, dsb) sangat berarti bagi perkembangan mental anak di dalam keluarga.

Saya menjadi teringat sebuah penelitian yang melibatkan sekolah khusus wanita atau khusus laki-laki saja, ternyata pemisahan ini meskipun secara bebas dapat kita simpulkan akan aman dari kebebasan berinteraksi antar lawan jenis, namun justru belakangan berkembang tidak sehat lantaran anak tersebut tidak siap menghadapi dunia di luar sekolah yang cukup heterogen, campur baur, dan seolah tidak ada sekat. Penelitian ini saya baca dari laporan berita di situs detikdotcom. Dua karakter yang berbeda yang sadar atau tidak ditunjukkan oleh ayah-ibu ternyata melengkapi pemikiran anak tentang fungsi dan tugas masing-masing gender. Bahwa seorang ibu itu lembut, ngemong, ngalahan, feminim, sedang ayah itu ya itu tadi, penuh dengan kesan maskulin yang menguntungkan.

Sesibuk-sibuknya seorang ayah, akan lebih baik dan seharusnya begitu, jika ia menyisihkan waktu-waktu khusus untuk anaknya. Jangan sampai anak mengartikan kehadiran ayah adalah sebuah formalitas hubungan kekeluargaan yang umum. Aduh jangan sampai! yang jelas, seorang ayah sejati adalah ayah yang menjadi ayah bagi anak-anaknya, bukan bapak-bapak yang menjadi tempat minta uang. Hehe.

Apa yang aku sampaikan ini jelas hanya merupakan permukaan saja. Lebih mendalam jika nanti suatu saat aku sedang tidak malas, akan mencari informasi dan data pendukung yang akan menguatkan beberapa pemikiran yang sudah aku paparkan di atas. tetapi, yah, ini hanya semacam sebuah pemikian pribadi yang mendesak ingin dikeluarkan begitu saja, harap maklum yah. Semoga bermanfaat😉

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s