Membiasakan Anak Melihat Kebaikan (homeschooling today)

Bingung mau nulis apa judulnya, hehe. Ya intinya sih membuat anak melihat kebaikan di lingkungan tempat ia tumbuh. Dan, kayaknya aku lebih suka kata home education deh, soalnya homeschooling identik sama anak usia sekolah yang melakukan kegiatan belajarnya di rumah. Lagipula menurutku istilah home education lebih nendang dibanding homeschooling.

Hari ini sumber inspirasi kita seperti biasa, anak didikku, muridku, adikku, anakku, ponakanku tercinta, Sunny boy!

Peristiwa pertama, Sunny sedang menggambar dirinya sendiri dan tantenya (aku), ia gambar lengkap dengan jilbabnya yang lebih mirip sama topi dibanding jilbab. Hehe. Dan juga ada telinganya -.-”

Aku: Kok tante telinganya keliatan, tante kan pake jilbab…

Sunny: Enggak ini makenya (emang) gini

Aku: Oh tante lagi di dalam rumah ya?

Sunny: Iya, nanti kalau ada tamu, jilbabnya dipakai.

Pemahaman yang polos dan jujur tersebut tentu sangat bergizi untuk perkembangan religiusitas dalam dirinya. Anak pinter anak pinterr….🙂

Peristiwa kedua, tentang mengutamakan sholat. Sebenarnya dia anaknya “gak suka” aku sholat meninggalkannya main sendiri. Tetapi setiap dia merajuk, aku cuekin aja, itu memberikan pemahaman padanya bahwa apapun yang dia lakukan aku tetap akan sholat. Lagipula kalau kita menginginkan anak setuju dengan kata-kata kita, tak perlu menanyakan pendapatnya, namun langsung melakukan/menyuruhnya melakukan sesuatu. Kecuali dalam hal-hal tertentu, seperti mau pakai baju warna apa dia hari ini. Lanjut ceritanya, pukul 12.00, sudah makan, kami meneruskan aktivitas menggunting pola bangun datar, seperti persegi, lingkaran, hati, dsb.

Aku: Setelah ini tante mau sholat

Sunny: nggak boleh

Aku: *diem*

Setelah semua tergunting, aku mengambil air wudhu.

Sunny: Sunny mau gunting lagi *lalu aku buatin pola sebelum sholat*

Tante: Nih, digunting yah

Sunny: Nanti, habis sholat dulu

Nah, kan, anak itu selalu membuat kejutan. Hehe.

Peistiwa ketiga, aku denger dari tante aslinya (kalo aku kan tante aspal, asli tapi palsu). Tentang kejadian kemarin-kemarin bahwa Sunny suka pup tanpa bilang-bilang, dan akhirnya tercecer di lantai kamar/dapur.

Sunny: Maza, kasihan tante danti. Tadi Sunny pup di kamar.

Maza: Ha? *dia gak cerita merespon apa, hanya cerita tentang Sunny yang cerita padanya tentang kejadian kemarin, halah bahasane*

Anak ini sudah bisa merasakan iba, kasihan, simpati, dan semacamnya. Memang anak seusia dini kudu diajarin macam-macam emosi, dan jua mengenalinya, supaya kecerdasan emosinya terasah dengan baik.

Well, itu saja yah kawan kawan, cau!!😉

One response

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s