Andai Aku Beranjak Tua & Tak Menarik, Masihkah Kau…?

Tiba-tiba tercenung, gegara sebuah buku om Edi yang punya judul, “Andai Aku Jalan Kaki, Masihkan Engkau Selalu Ada Untukku?”, dan lagi, baru saja menekuri kisah-kisah yang diceritakan oleh mbak Asma Nadia di dalam bukunya yang diberinya judul, “Catatan Hati Seorang Istri”.

Aih, tak adakah manusia yang benar-benar memahami situasi seperti ini? Atau aku saja (dan beberapa yang lainnya) yang merasa terlalu percaya, terlalu lurus, atau terlalu saklek? Andai aku berubah, mungkinkah “kau” masih ada…? Mungkin arah cerita ini berjalan terlalu melankolik, baiklah, setidaknya saya sudah berusaha mencoba untuk menepis kegalauan yang tibe-tibe melanda, kegalauan jangka panjang, yang tidak hanya berhenti pada permulaan sebuah kisah; bertemu, lalu bahagia.

Okay, marilah kita berbicara secara universal, karena saya tak ingin membicarakan diri sendiri saat ini. Ho, terima kasih. Menjadi lemah, menjadi tua, tak menarik lagi, konon katanya adalah salah satu ketakutan terbesar wanita selain tikus dan kecantikan wanita lain (Baru kusadari betapa ribetnya para produsen produk kecantikan itu berkerja keras hanya untuk wanita). Meski tidak semua laki-laki (tolong jangan dinyanyikan), namun kenyataannya banyak juga yang seperti itu. Entahlah saya pun tak mengerti, sama seperti kebanyakan laki-laki yang selalu bilang, “Ah! dasar wanita! susah dimengerti”. Seperti itu bagaimana? Ya itu, jatuh cinta lagi. Jadi ingat kata mas Salim A. Fillah suatu ketika, bahwa mustahil seorang laki-laki yang bahkan sudah beristri tidak pernah jatuh cinta lagi. Makanya, sesuai sabda Rasul, jika Anda (laki-laki) bertemu dengan seorang wanita yang menarik hati anda, segeralah pulang dan temui istri anda, karena di dalam istri anda ia memiliki apa yang dimiliki oleh wanita lain. Rasulullah, you’re so sweet! :”>

Ehm, kalau anda belum menikah? Mungkin anda perlu menguntit wanita tersebut, dan temui orang tuanya, hehe.

Ya, sebenarnya tidak adil juga ya mencap bahwa hanya jalan pikiran wanita yang sulit dimengerti, karena kalau kondisinya terbalik, sebenarnya sama saja. kami, kaum wanita ini akan menjadi tak mampu memahami jalan pikiran laki-laki. Begitukah? Hem.

Wo, bahasannya menjadi melebar kemana-mana. Tetapi, intinya, tetap hanya Allah yang berhak menduduki singgasana cinta di hati kita. Nggak boleh digeser oleh kecintaan kita terhadap mahluk-Nya yang lain. Karena Dia-lah yang tiada akan pernah mengecewakan kita. Begitu kan?🙂

2 responses

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s