Mamaku Adalah Ibuku #Renungan Jilid 1

Sore ini, hati dan pikiran saya tergerak di satu titik, Ibu. Seorang wanita yang dari rahimnyalah aku lahir, dari tangannyalah aku terdidik, dan dari doanyalah aku mewujud. Menjadi seperti ini. Aku memiliki apa yang tak dimiliki oleh wanita lain. Aku juga memiliki ibu yang tak seperti orang lain miliki. Ibuku yang istimewa.

Aku memanggilnya mama, meski kata orang “mama” berarti uang saku yang lebih. Haha. Tapi ibuku lebih suka kami panggil mama. Ya mama. Ah aku ingin menangis. Dan di penghujung inginku, perlahan air mata itu bergulir satu demi satu. Aku ingat banyak, banyak hal yang tak patut aku lakukan sebagai seorang anak. Mamaku menaruh harapan-harapan di pundakku, dan banyak di antaranya aku tentang dengan alasan aku memiliki kehidupanku sendiri. Aku sering egois memikirkan perasaanku sendiri, lalu mengorbankan perasaan halusnya.

Mama, mama… sebenarnya banyak hal yang ingin kulakukan untukmu. Membuktikan baktiku padamu. Namun dikarenakan egoku, sering sekali cita-citaku untukmu tersamar, bahkan pupus begitu saja. Mama, mamaku yang istimewa, sebenarnya aku ingin jujur kepadamu. Bahwa aku mencintaimu, dan betapa kuat perasaanku untuk membahagiakanmu, dan menghimpun segala yang kau inginkan ke hadapanmu. Betapa kuatnya perasaanku untuk menaati perintah Rabb-ku untuk memuliakanmu. Betapa kuat perasaanku untuk mengantarmu hingga mencecap nikmat Surga-Nya. Mama, untuk itu mama. Tolonglah diriku untuk berbakti kepadamu. Tolonglah aku untuk dapat menjadi saksi kehebatanmu dalam mendidik anak-anakmu.

Karena mama, terkadang aku tak mampu mengontrol diri lalu berkata dan berbuat hal yang menyakiti hatimu. Mama… mama… aku saat ini membayangkan hatimu adalah sebongkah daging yang mulai retak, rapuh oleh usia. Dan aku menjadi takut tak sempat membuatmu merasa bangga memiliki anak perempuan yang cantik luar dan dalam.

Mama, di mimpi nanti malam, aku harap engkau bermimpi tentang aku. Kau melihatku sebagai malaikat kecilmu yang menyedapkan pandangan matamu, lalu aku dan engkau bercengkerama berdua membicarakan masa depan kita di surga. Lalu masing-masing kita melontarkan impian masing-masing.

“Ndhuk, terimakasih menjadi bidadari kecilku yang berbakti, dengan doa dan ketinggian ahlakmu mama berada di sini karenamu”, katamu mama.

Dan mama, terimakasih untuk doa yang engkau kirimkan di langit sepertiga malam kepadaku sehingga mampulah aku memenuhi harapanmu menjadi ahli ilmu, ahli ibadah yang diridhoi Allah…

6June2011

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s