Mengatasi Kolik Ponakanku

Yeah, agaknya Allah tau aku kehilangan banyak inspirasi menulis artikel, lalu Dia yang Maha baik memberikan aku kesempatan ini. Menenangkan bayi kolik! (Aku lebih seneng menulis berdasar pengalaman, dibanding asal comot sana sini).

Sebenarnya (mungkin) bukanlah kolik dalam arti sesungguhnya, karena aku juga tidak tahu ritme tangisan bayi yang menjadi “korban”ku kali ini. Hm. Kalau dalam arti sesungguhnya, kolik itu semacam tangisan bayi terus menerus selama hampir 3 jam/hari terutama pada waktu sore menjelang malam. Penyebabnya pun konon belum banyak diketahui secara pasti, banyak faktor “X” yang menyertai pokoknya.

Ceritanya, pas baru nyampe rumah aku mendengar suara tangisan bayi, aku pikir itu bayi tetangga yang rumahnya memang berada di depan rumahku. Betul-betul tangisan yang menyayat hati, tumben suaranya sampai rumahku (biasanya sih itu bayi anteng benderang *Loh?). Pas baru masuk kok suara tangisnya semakin kencang, barulah aku curiga kalo ada bayi di dalam rumahku, langsung deh menebak itu bayinya sepupuku yang baru beberapa bulan.


Tada! bener aja, masuk ruang tengah aku melihat budhe (nenek si bayi) sedang menggendong Ardila, kata budhe, sepupuku lagi pergi ke mana gitu. Budhe terlihat sangat panik. Tiba-tiba saja sungutku bagaikan tersengat sinyal kuat indos*t, ada korban! Dalam sekejap, Ardila sudah berada di tanganku. Beberapa saat kemudian, Ardila berhenti menangis dengan gendongan gaya pundak (halah!), tapi kayaknya pelukanku tak sehangat ibu, alhasil mbeker-mbeker lagi dah ponakan satu itu.

Intinya, berbagai gaya sudah aku (dan budheku) lakukan untuk menenangkan Ardila. Terakhir usaha yang meredam tangisnya adalah nyanyian “pok ame-ame”ku dengan gaya yang membuat budheku tertawa! budhe…budhe… saya ini sedang menghibur Ardila, bukan Budhe! -_-”


Yeah, semua bayi juga tahu, stimulasi yg lebay juga ngebetein dan (mungkin) bikin laper berat apalagi tenaga udah dipake buat nangis lebih dari satu jam (Lah, habis gimana, ibunya masih di jalan, gak bisa ngasi ASI).

Gregetan abis! Habis gimana, masak budheku ngasi minum air gula, mamahku dateng-dateng nyalain semua lampu (ruangan jadi terang banget, tak mendukung suasana temaram yg nyaman buat bayi tidur), nggak budhe nggak mamah nggendhong Ardila pasti pake diguncang-guncang, haduhhh….  berasa udah emak-emak deh ngelarang ini itu, atau nyaranin ini itu. sampe-sampe budhe curcol ama sepupuku, “Tadi dah tak bikinin air gula, neng rak oleh e karo denok (aku maksudnya)” :))

Well, sebenarnya Ardila udah 5 watt matanya, tapi karena gak nyaman, bete dan jengkel ibunya gak dateng-dateng, tetep aja dia nangis. Pilihan terakhir! Akhirnya aku gendong ardila pake selendang, dan ku ajak dia ke belakang (tempet njemur baju), di sini tempetnya sunyi, sepoi-sepoi, dan temaram. Memang sih masih menangis, tapi matanya merem, lama-lama suara tangisannya patah-patah, lama-lama diam tapi matanya melek, lama-lama kemriyip, dan tidurrrrrrrr!!!!!!!!!

Ahahaha… mission complete!!! Bohahaha… :))

Intinya kalo nenangin bayi nangis begitu, kita kudu tenang dulu, kalo dah terlanjur kitanya frustasi, maka serahkan bayi pada orang lain dan biarkan kita istirahatkan diri untuk mengumpulkan kembali energi yang terkuras. Hibur seperlunya (Ardila sempet ketawa ketiwi sebelum nangis lagi). Bawa ke tempat yang tenang (aja jalan-jalan), dan pencahayaan yang kurang.

Yah begitulah, lumayan dapet korban satu malem ini, sekarang capekkkk…🙂

8 responses

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s