Celoteh Anak (Lomba)

Ada gejolak rasa rindu yang meluap saat memori saya putar di waktu-waktu kebersamaan saya dengan murid homescholing saya. Ya, banyak sekali kejadian yang saya alami bersama Rafid (4 tahun) dan Hamza (2 tahun), dan jika semua peristiwa tersebut diterjemahkan ke dalam sebuah perasaan, maka artinya adalah perasaan rindu bertalu-talu.

 

 

Awal saat dipertemukan dengan Rafid, ia menolak saya dan mengajukan berbagai alasan supaya saya tidak mendekat, dia katakan ngantuklah, capeklah, sementara Hamza? anak itu bersikap cool dan cuek dengan kehadiran saya. Dengan modal kemampuan “merayu” dan sedikit “muka badak” saya berusaha mendekatinya; saya tidak peduli saat mata beningnya melihatku aneh karena saya dengan pede-nya bernyanyi-nyanyi gila di depannya, memperagakan lagu yang sedang saya nyanyikan. Alhamdulillah trik ini berhasil! Rafid terpancing menebak gerakan yang saya lakukan. Ini adalah awal yang bagus bagi saya untuk mengambil hatinya meski Hamza, adiknya masih bersikap cuek dan asyik sendiri, saya yakin toh dengan perjalanan waktu kami akan dekat juga🙂.

 

Kejadian demi kejadian saya alami bersama kedua anak ini, 6 bulan bersama mereka memberikan banyak pelajaran berharga sebagai seorang wanita yang konon katanya memendam bakat keibuan jauh sebelum menjadi ibu.

 

Suatu ketika, di pagi yang mendung dan tetes air hujan mulai jatuh satu-satu membasahi halaman rumah. Kami berdua (saya dan Rafid, Hamza tidur) duduk di depan pintu dan mengamati lingkungan rumah yang sendu tertutup mendung. Saya tak tahu apa yang ada di pikiran Rafid kala itu, saya biarkan ia terdiam mengamati hujan. Tiba-tiba ia berseru,

“Amah, lihat di atas!”, aku menengadah ke arah langit yang ia tunjuk.

“Lihat amah, ada Allah di atas sana!”, sambungnya lagi, tangannya masih mengacung ke atas.

“Sedang apa Allah, Fid?”, tanyaku, ia diam dan masih takjub memandang ke langit.

“Sedang menurunkan hujan yah?”, kataku kemudian.

“Hu’um!!” ia mengangguk mantab.

Tidak sekali ini kau membaca alam nak, dan semoga apa yang sudah amah berikan padamu menjadi modal kecerdasan spiritualmu.

Lain Rafid, lain Hamza. Bocah usia kurang dari dua tahun yang menjadi kewajiban saya juga tak kalah kuperhatikan tumbuh kembangnya. Meski secara bahasa ia belum mampu mengatakannya, saya selalu berusaha mengajaknya berbincang, menstimulasi kecerdasan bahasanya karena saya yakin ia akan ingat dan suatu saat meniru bagaimana harus berkata-kata untuk menyampaikan maksud hatinya.

Perkembangan bahasa Hamza selama bersama saya lumayan pesat, sepertinya ia menghapalkan apa yang didengar dari lingkungannya, dan mengingat saat kapan harus mengeluarkan kata atau kalimat yang tepat.

 

Seperti saat saya sedang menemaninya beraktivitas “gunting tempel”, Saya sedang menggunting kertas yang sedianya akan ia tempelkan pada sebuah halaman buku,

“Ati-ati amah, itu tajaamm… ati-ati, itu tajam…”, katanya sambil menunjuk-nunjuk gunting yang saya gunakan.

“Apanya yang tajam, sayang?”, saya mencoba memancing, karena inilah kalimat pertama yang terdengar panjang dari mulutnya.

“itu amah, tajaamm…”, katanya lagi sambil menunjuk gunting yang masih  saya pegang. Sekali lagi takjub melihat perkembangan bahasanya.

Ada lagi kisah persaudaraan dua bocah ini, yang namanya dua bersaudara pasti ada ribut-ributnya, apalagi si kecil Hamza sedang tinggi sifat-sifat egoisnya. Namun, hal yang menyenangkan saat mendapati sang kakak dengan penuh kesabaran belajar ngemong adiknya, membuat bagaimana caranya adiknya tetap senang atau mau bermain dengan adil.

Kalimat lucu seperti, “adik jangan marah-marah terus, nanti rambutnya tambah keriting” saya pandang sebagai wujud penenangan kakak kepada adiknya yang cukup baik dibanding membentak-bentak dan memukulnya. Atau kalimat, “adik jangan marah-marah gitu, ini mainannya buat bersama-sama…” juga membuat saya terharu melihatnya.

Dua bocah cerdas yang memberikan saya banyak pelajaran tentang pertumbuhan dan perkembangan manusia. Dan Darinya sayalah yang belajar, bukanlah mereka yang belajar dari saya. Semoga cerita ini menjadi pemantik semangat belajar para orang tua dalam mendidik putra putrinya.

 

sumber: http://blogfam.com/wordpress/kabar-kabari/lomba-menulis-ultah-blogfam-ke-7#comment-316

4 responses

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s