Mengendalikan Anak yang Sulit Diatur

Apa respon orang tua saat mendapati anaknya melakukan sebuah “kesalahan”? susah diatur? membangkang melulu?

“Anak kok susah banget diatur, kamu itu anaknya siapa sih?!”, hehehe… orang tua yang aneh, jelas-jelas anak sendiri, masih dipertanyakan pula! hihihihi…

Saya pernah mendapatkan sebuah pertanyaan, “mbak, kok bisa ya seorang anak menjadi sangat nakal, padahal orang tuanya di rumah, mendidiknya 24 jam non-stop. Apa yang salah?” nah kan, mikir saya… hehehe… Iya juga ya, jika kita berpikir gampang, seharusnya anak denga pengawasan ketat dari ortu bisa lebih mudah dikendalikan dibanding dengan mereka; anak yang diasuh oleh pengasuhnya (atau kakek-neneknya). Namun saat terjadi sebuah ketidakberaturan seorang anak, di manakah letak kesalahan kita??

Saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah, perilaku anak ternyata dipengaruhi banyak faktor, dan para peneliti telah bekerja untuk melihat faktor manakah yang paling kuat atau paling lemah mempengaruhi perilaku anak.

Lima pengaruh yang dimaksud adaah sebagai berikut:

1. Temperamen

2. Karakteristik biologis lain

3. Pola asuh

4. Stress keluarga

5. Pengaruh dari keluarga

Saya akan membahasnya satu per satu secara sederhana dan ringkas untuk anda ya, cekidots!

Temperamen

Kata temperamen menggambarkan bermacam-macam sikap yang kita tunjukkan sejak dalam kandungan hingga ia lahir. Temperamen biasanya memiliki pasang surut, misalnya orang yang bersemangat dan aktif seringkali menjadi penggerak dan motivator; mereka jago menyelesaikan tugas. Di sisi lain, orang tsb sulit hidup dengan orang lain karena mereka seringkali merespon dengan emosional dan memaksa.

Karakteristik Biologis Lain

Meliputi faktor fisik, emosional, serta perkembangan fisik dan medis. Sekilas tentang tahap-tahap perkembangan:

Anak lahir-18 bulan dasar sehatnya perkembangan psikologis dan sosial pada bayi terletak pada terbentuknya kepercayaan dasar, perasaan bahwa orang-orang terdekat dapat diandalkan pada hampir setiap waktu untuk memenuhi kebutuhan emosional seorang anak.

18 bulan-3 tahun masa balita adalah masa mengembangkan otonomi secara sehat, untuk menyeimbangkan ketergantungan dan kemandirian pada ortu yang memberikannya kasih sayang.

3-5 tahun masa kanak-kanak pra-sekolah adalah tingkat inisiatif yang sehat, menunjukkan semangat keingintahuan dan mencoba beragam aktivitas fisik. Bagaimanapun, tingkah anak-anak yang sulit dikendalikan, mungkin lebih intens dibandingkan dengan anak-anak lain -dan berpotensi membahayakan.

6-12 tahun masa berprestasi atau kerja keras, adalah masa-masa anak usia sekolah untuk memiliki rasa pencapaian sebagai hasil dari usahanya.

13-18 tahun Masa remaja adalah masa mencari jati diri. Mereka mencoba menjawab berbagai pertanyaan seperti, “siapakah aku?

Bagi remaja yang sulit dikendalikan dan belum berhasil melewati tingkat perkembangan sebelumnya, seperti kepercayaan, otonomi, inisiatif, dan pencapaian tugas mencari jati diri ini bisa menjadi pencapaian tugas yang sulit.

Hal-hal yang Berkaitan dengan Kesehatan dan Medis

Kesehatan fisik memiliki dampak yang sangat penting bagi kesehatan sosial dan emosional. Anak-anak yang mengalami maslah kesehatan kronis bisa beresiko mejadi anak yang sulit dikendalikan, bukan saja karena temperamen alaminya, melainkan juga karena cara-cara anggota keluarga memperlakukannya. Contohnya, orang tua yang memiliki anak yang menderita asmamencoba melindungi anak-anaknya dengan melakukan segala sesuatu untuk anak tersebut, padahal mungkin anak-anak tersebut bisa mengerjakannya sendiri.

Pola Asuh

Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda mengenai berhasil-tidaknya cara/pola asuh yang dilakukan. Pada umumnya, para ortu mengajari anak mereka dengan 4 cara:

* Memberi contoh (sudah jelas)

* Respon positif. Jika kita mengatakan kepada anak-anak betapa kita menghargai mereka karena telah menuruti nasehat kita, mereka akan mengulangi perbuatan tersebut.

* Tidak ada Respon. Orang tua juga mengajari anak-anak dengan cara mengabaikan sikap anak-anak. Sikap anak-anak yang diabaikan cenderung akan diulangi. Dengan kata lain, mengabaikan perilaku tertentu bisa mengurangi perilaku tersebut (khususnya jika perilaku tersebut “mengganggu”). Misal perilaku suka merengek. Jika ortu bisa mengabaikan rengekan dan mengatakan, “Jika kamu meminta seperti anak umur 5 tahun maka ibu akan menjawab”, dan kemudian diam, hingga anak mulai bersikap seperti anak umur 5 tahun, rengekan cenderung menurun. Menyembunyikan/mengabaikan respon tidak boleh dilakukan jika sikap yang ditunjukkan anak sudah sangat menganggu, seperti berteriak atau memukul.

* Hukuman (sudah jelas)

Nah, demikian faktor-faktor yang bisa mempengaruhi perilaku anak. Maka, setelah kita tahu, hendaknya kita menjadi lebih bijak dalam menentukan pola pendidikan terhadap sang anak. Omong-omong tentang Anak yang sulit diatur, ternyata saya pernah menulis tentang tema sejenis, silahkan dibaca dan semoga bermanfaat ^__^!! (Mengendalikan Anak, Bukan Dikendalikan).

6 responses

  1. kalau ngatur anak orang lain yang ngeyel gimana caranya mbak danti? kasus seperti ini biasanya ditemui saat mendampingi anak-anak di TPA. ada yang ngeyel sekali dan sukanya nggangguin temannya yang sedang mengaji..

    • ya buatlah kesepakatan, istilah lainnya aturan. anak2 diberlakukan aturan justru utk mengajarkan anak batasan2 yg boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan kok.

      contoh:
      > jika kamu memukul teman, maka kamu akan berdiam diri di pojok selama 1 menit tidak boleh ke mana2, jika kamu lari maka ditambah 1 menit, aku suka menyebutnya pojok/ruang konsekuensi.
      > batasan ini dibuat seperlunya saja, tdk usah parno bin lebay, hehe…

      Kemudian, jika ingin menasehati, maka ada trik komunikasinya (menurut teori):
      (1) uraian tentang perilaku yang tidak dapat diterima, (2) perasaan yang dialami orangtua, (3) efek nyata dan konkret (atau akibat) pada orangtua. contoh: “Mahfud, Uzzi… (nama adek TPA ku dulu, hehe), kalo kalian berteriak2 seperti itu mba Danti gak bisa nyimak Andi ngaji…”, tdk tll saklek ama teorinya tpi waktu itu cukup berhasil utk mbuat mereka duduk diam di pojokan dan memegang Al Qurannya sendiri2, berganti kegiatan mengaji, katanya: “Mba, aku mau khatamin Al Qur’an ya!” trus baca surat Al Ikhlas diulang2… hihihihi…

      wah udah panjang, itu dulu deh… :p

  2. wah, klo di dunia sepakbola, ant cocok bgt jadi komentator…

    so, tetep semangat berbagi ilmu bos!

    ganbatte ne ^^v

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s