Belajar dari Polah Anak

Oh baiklah, apakah kemarin anda mencari saya Bunda? setelah seharian kemarin saya benar-benar absen tak menulis apa-apa… (hihihihi…. pede banget yah… )

Hari ini saya ingin bercerita tentang sesuatu Bunda, semoga bermanfaat yah… (mode curhat ala BUNDAPIARADAKU).

Ini pelajaran yang saya dapatkan dari murid saya dahulu. murid kecintaan saya, dan katanya sih, saya juga guru kecintaan mereka Bunda… (hihihi).

Well, suatu hari… hamza (2 tahun) merengek meminta gunting yang aku pegang, yah, si kecil itu memang sedang seneng-senengnya main gunting, lipat, gambar, dan semacemnya (ikut-ikut kakaknya). Nah, karena masa itu saya sedang asyik menemani kakaknya berkreasi, maka saya tak mau kalah, memberikan penjelasan padanya kalau gunting ini bahaya… Lihat apa yang dia katakan,

“maaf… maaf… maaf amah.. Amza mau pinjem guntiiing… maaf amah…”

Lah?!? kok ada kata maaf2 segala sih? ahahahaha… saya langsung teringat kebiasaan Bundanya yang saya teruskan sejak membinanya, kebiasaan kami ketika melarang atau menasehati Hamza pasti ada kata “maaf”nya, misal

“maaf Amza sayang, bayamnya dimakan ya? biar Hamza sehat”

atau

“Maaf maaf Amza… ini berbahaya, kita main yang lain saja ya?”

dan lain sebagainya.

Alhasil leleh juga nih saya meminjamkan gunting padanya

Apa yang bisa kita petik dari kejadian tersebut? Yah, ternyata apa yang kita katakan, sengaja atau tidak, sadar atau tidak akan terekam betul dalam memori si anak, hmmm… memang kudu ati-ati, atau suatu saat nanti bakal kaget dengan apa yang dikatakan si anak.

Apalagi yah, uung… Ah ya!!

Sekarang ceritain tentang kakaknya (4 tahun), jadi waktu itu saya bersiap akan sholat dhuhur, sedang si kakak sedang asyik-asyiknya bermain korden yang ia lilit-lilitkan di tubuhnya. Nah, tiba-tiba…

GUBRAAK!!!

Suara berdebum keras sekali, saya sampai shock dan berseru “Allahu Akbar”, lalu buru-buru saya intipin si kakak. Ia jatuh dengan posisi lututnya dahulu yg mencium lantai sedang betisnya terlilit oleh kain korden. Aku menahan diri meski tadi sempat berteriak, lihat wajahnya…

“Uwaaa…!! sakit amaaaah…!!”, aku tak bergeming, dengan menahan rasa iba dan memasang wajah poker (tahu kan wajah poker itu seperti apa?), saya katakan padanya,
“Sakit nak? coba berdiri”, lalu Rafid mencoba berdiri dan menghentikan tangisnya seketika!! Setelah itu Bunda, kalau anda bisa melihatnya kala itu, ia langsung kembali asyik berlari ke sana kemari dan melupakan peristiwa yang baru saja ia alami.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah, Bersikaplah tenang, namun “perhatian” jika melihat sang anak jatuh. Karena jika anda panik maka, itu akan membuat anak memahami bahwasanya jatuh dan sakit adalah masalah yang sangat besar.

Oke Bunda? Semoga bermanfangat yah!!

4 responses

  1. Karena jika anda panik maka, itu akan membuat anak memahami bahwasanya jatuh dan sakit adalah masalah yang sangat besar.

    Subhanallah, kalimat ini bisa bermakna banyak hal buat pendidikan anak…

  2. bener bgt, buuuunn
    harusnya kalo anak lg sakit jg, kita jgn panik. tp ya gmn atuh yah?
    saya kalo ngeliat ada anak kecil yg jatoh aja kadang2 suka panik sendiri..hehehe
    tp harus belajar nggak panik ahh bwt anak sendiri😀

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s