Dear (calon) Anakku

Mendengar artis berlagu, mengingatkanku padamu wahai anak yang akan menjadi takdirku. Selintas lalu, pikiran ini menghampiri aku, wanita yang berkehendak menjadi Ibu bagimu. Pikiran ini tentangmu yang mengalir begitu saja, yaa… meski ku tak tahu bagaimana rupamu yang sesungguhnya, siapa ayahmu, dan kapan dirimu hadir di pangkuanku, ah… aku hanya butuh bersabar kan?


Nak, baiknya aku panggil dirimu apa ya? Secara calon ibumu ini belum mengerti panggilan kesukaanmu, ah tapi semoga kau ridho jika untuk sementara aku memanggilmu dengan “Nak” saja. Iya, baiklah nak, coba bacalah apa yang ibu pikirkan tentangmu. Duluu… sekali saat calon Ibumu ini masih sekolah, Ibu membayangkan kau akan hadir dengan segala kesempurnaannya, cakep seperti Jerry Yan (ssst.. artis Taiwan kesukaan ibu dulu, hihihi) atau cantik seperti Siti Nur Haliza, dan juga menyenangkan (tidak suka menangis, tapi suka tertawa saja). Kemudian saat aku memutuskan untuk mengajar di sebuah lembaga sekolah rumah, aku pun menjadi tersadar sesadar-sadarnya, ternyata orang cakep banyak cobaannya, apalagi jadi artis, dipeluk-peluk lawan jenis sembarangan, cium-ciuman dengan non mahram, aduhh… mana aku tega padamu nak…?? Cakep atau tidak, asalkan Allah di hatimu itu sudah cukup bagiku. Lagipula menyenangkan bukan identik dengan selalu tertawa, Lalu bagaimana aku bisa tahu maksudmu jika kamu yang masih bayi kelaparan tapi tertawa? Buang air juga tertawa? Kesakitan tetapi malah terbahak-bahak? Ah, yang ada aku tidak akan mengerti maksudmu, dan tidak akan pernah mengerti karena mengganggapmu baik-baik saja🙂. Siapa pun kau, laki-laki maupun perempuan, datanglah dengan penuh segenap kasih sayang Tuhan yang turut dalam kehadiranmu.


“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki” (Asy Syuraa 49)


Semakin bertambah usia calon ibumu ini, semakin kuat cinta dan rindu yang aku rasakan kepadamu. Ahh… jangan kau tanya kenapa, ibu malu menjawabnya. Ini masalah hati nak, dan sebuah cita-cita besarku kepadamu. Oh, bukan untuk mengeksploitasi dirimu, bukan… Bukan juga mengejar obsesiku yang tidak tercapai. Semata semua yang aku persiapkan ini justru untuk membekali dirimu. Setelah kau lahir nanti, kau akan jadi manusia baru yang berbeda denganku, berbeda dengan ayahmu, dan berbeda dengan manusia mana pun di dunia ini. Kau manusia yang menggenggam sendiri takdirmu, mengalami sendiri perjuanganmu, dan tentu saja kau sendiri yang akan mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu kepada Tuhanmu. Ya, aku bersama ayahmu hanya memberikan perbekalan semampunya, lalu kau akan meneruskan apa yang sudah ayah dan ibumu wariskan kelak. Tentu bukan emas dan dirham yang aku maksud, jikalau memang Allah mengamanahi itu pun tak kan berat hatiku untuk memberikannya kepadamu, namun yang kami wariskan kepadamu adalah ilmu, ilmu yang secara turun menurun Allah wariskan melalui para Nabi dan rasul-Nya.


Dari sekian indah nasihatku, tetapi perlu kau ingat anakku, karena ayah dan ibumu kelak bukanlah malaikat yang sempurna akal, jiwa, dan raganya, maka ada kalanya kami akan berbuat kesalahan. Maka dari itu, prinsip Al Quran dan sunah yang aku tanamkan dalam dirimu itulah yang musti kau pergunakan sebaik-baiknya. Jadi, kiranya ayah atau ibumu melakukan kesalahan atau sesuatu yang melanggar syariat, janganlah kau sekonyong-konyong mengikuti kami. Ingatlah ajaran kanjeng Nabi Muhammad SAW yang tercantum dengan jelas dalam Al Quran dan sunah, dan selamatlah dirimu beserta keluargamu.


Hai nak, apa kabar di sana? Terus terang aku sangat penasaran kepadamu, setelah melihat banyak anak yang dikaruniakan Allah kepada orang-orang di sekitarku, aku menjadi suka membayang-bayangkan bagaimana kelak mendidikmu, dengan strategi apa aku merebut cintamu, atau seperti apa responmu terhadap pola pendidikan yang aku dan juga ayahmu kelak akan lakukan. Ah ya, memang belum saatnya itu tiba, tetapi sangat ingin aku layak menjadi ibumu, sangat berharap untuk aku mampu menjadi teladanmu. Untuk itu telah aku siapkan ilmu yang tidak seberapa demi menyambutmu. Aku tidak tahu kapan kau akan Allah antar kepadaku, namun setidaknya aku telah bersiap doa dan upaya yang biasa (ya, seharusnya biasa) calon-calon orang tua seluruh dunia lakukan.


Anakku, acapkali aku merasa sedih saat mendapati orang-orang di sekitar menyepelekan upayaku, sejak aku asyik dengan buku tentang mendidik anak, ada saja orang-orang yang berkomentar sinis kepadaku, “haha… belum punya anak aja udah baca gituan” atau “Udah kebelet nikah ya?”. Anakku, bantu aku mereda gundah ini, apa salahku jika aku mempersiapkan ilmu untuk menyambutmu? Sekali pun takdirmu masih jauh untuk bertemu denganku, namun inilah upayaku menunaikan rindu kepada Tuhanku, terhadap janji yang Dia gaungkan. Bahwasanya mendidikmu anakku, serupa jihad tentara Allah di medan peperangan, yang berlaga menggempur musuh tak peduli akan keselamatan dirinya, namun lebih mementingkan kehormatan agama ini, Islam.


Anakku, bukan mudah mendidik seorang anak mencintai Rabb-Nya, berkorban untuk agama dengan darah dan hartanya, inilah yang sekiranya aku sadari dan aku ingat-ingat sedemikian rupa. Aku lebur dalam dunia kanak-kanak semata untuk belajar mengerti bagaimana cara pikiran dan nurani seorang anak bekerja, agar kelak ketika kau benar-benar mewujud rupa di pelukanku, tidaklah terlampau kaget aku dalam membimbingmu, hanya perlu penyesuaian dan belajar lebih banyak lagi tentang dirimu.


Dari tatapan aneh, ragu, dan heran orang-orang di sekitar kuterhadap upayaku mencintai anak-anak sepertimu, betapa ingin sesungguhnya aku mengajak mereka belajar juga, bagaimana seharusnya anak itu dididik, sehingga apa yang kami selaku orang Islam bangun, kiranya tidak akan sia-sia, lalu ia menjadi bangunan yang kokoh menjulang menjelma kejayaan Islam yang kekal abadi. Adakah mereka hendak menyambut seruanku nak? Bersama membangun Islam dimulai dari sini, keluarga kecil kita, keluarga kecil mereka, keluarga seluruh umat Islam yang konon katanya terkenal bodoh, miskin, dan tak berpendidikan. Aku percaya anakku, masih banyak orang-orang yang berpikiran terbuka menyambut ajakan mulia ini. Maka, perlahan namun pasti, sedikit namun kuat, Aku, Bundamu akan terus berkontribusi di mana pun, dalam upaya mengajak pemuda Islam di mana pun untuk memulainya sejak kini.


Jadilah manusia yang mewujud nyata di masa depanku kelak, anakku…


“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. Al Furqon: 74)


=====

Surat ini saya sertakan dalam lomba “surat untukmu, nak. dari calon ibumu/ayahmu” yang diadakan oleh AZKAMADIHAH (silahkan diklik)

8 responses

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s