Gadis

Suatu saat dalam situs jurnal mayamu kau mengadu, tentang seseorang yang engkau kagumi diam-diam, menerbitkan cahaya simpati dalam hatimu. Dan entah apa yang menuntunku untuk selalu membaca dan mengikuti tulisan-tulisan rindumu itu. Waktu berlalu dan aku pun tak pernah lalai untuk meninggalkan jejak di box coment replay-mu. Ia berbalas, kemudian aku balas, dan kau balas, dan aku balas begitulah seterusnya.

Ah, gadis, kau tampak sama seperti tiga tahun lalu terakhir kita bertemu, di bawah pohon jambu di mana kita habiskan waktu bersama kawan gank kita tercinta. Kau selalu nampak ceria dan penuh pesona, bukan karena dandananmu yang macam astronot itu, bukan. Namun karena roman wajahmu yang teduh itu selalu tahu bagaimana harus bersikap dalam menghadapi masalah-masalah perkuliahan kita dahulu. Aku suka kamu dari dulu. Aku suka caramu menggenggam teguh pendirianmu, meski kami sering menjelma menjadi “setan-setan kampus” di dalam hidupmu.

BUZZ

Ah, si gadis, tak dapat kupungkiri ada sesuatu terasa membakar di wajahku, namun rasanya begitu hangat. Buru-buru aku tepis segala rasa yang mencuri-curi masuk dalam hatiku.

Gadisbiru: Aku di lagi Jogja nih, ketemuan yuk, can u?

Satria: Di mana?

Gadisbiru: di tempat biasa kita mangkal sama anak-anak, jam empat sore tepat ya! jangan telat! Ada yang lain juga…

gadisbiru sudah sign out. (01/09/2010 14:02)

Ah, inikah?? inikah Tuhan?? Dadaku berdebar kencang sekali, di waktu yang ditentukan tiba, aku tak mampu menyembunyikan roman muka bahagia tiada tara. Satu dua orang kawan gank kami mulai berdatangan, melepas rindu sejak tiga tahun berlalu meski ada di antara kami yang masih sering bertemu.  Belum, aku rasa ini belum lengkap sebelum kehadiranmu gadis. Hatiku diam-diam mencemaskanmu, apakah kamu terjebak macet? atau kamu lupa lika liku jalan menuju tempat favorit kita ini? atau lebih parahnya, dan aku sangat tak menginginkannya adalah kamu secara tiba-tiba tidak bisa hadir sore ini. Tidak… tidak… !!  Aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga tiba-tiba kau sudah berdiri di hadapanku dan menyapaku,

“Satria…?”

Ah, kau membuatku grogi gadis, apakah kau sudah lupa dengan wajahku ini, sehingga perlu kau tanyakan kembali apakah benar aku ini Satria?

“Oh, syukurlah… Mas ini lo Satria yang aku ceritakan itu, dialah yang selalu memberikan komentar untuk naskah-naskah ceritaku, dia yang…”,

Aku tak mampu memahami perkataanmu lagi, sendi-sendiku masih bergetar melihat seorang laki-laki dalam gandenganmu.

————————————————————————————————

Naskah keduaku dari Agustus di Ceritaeka🙂

25 responses

  1. dant,jam blogmu rendhet ki..mosok aku koment jam segini ditulis jam9 pagi?? ntar bs jd pitnah ki kl koment jam9 pagi ditulis jam2 malam…doh

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s