Akhir Memori yang tak Bermula

Aku masih sangat ingat kala itu dengan gayanya aku mematut-matut diri di depan cermin besar milik mamaku. Ah ya, ini adalah pertemuan kesekian yang selalu kunanti-nantikan kedatangannya. Aku tak peduli kata orang yang suka menyebutnya cinta monyet, yang ku tahu, perasaan ini ada tak peduli usiaku masih belum genap sepuluh tahun๐Ÿ˜€

Aku masih ingat, kala itu tak sedikit pun kau pedulikanku, tapi aku peduli kok. Aku suka mencuri-curi pandang caramu berbicara, caramu tertawa, bahkan caramu mengusap hidung di saat kamu kebingungan. Hihihi… semuanya menarik bagiku.

Aku juga masih ingat, waktu kamu menolongku keluar dari lumpur sawah di pinggiran desa. Dari 9 anak yang berlomba menuju sungai, hanya aku yang terjembab ke dalamnya. Dan dari 8 anak yang telah menjauh, hanya kamu yang kembali untuk menolongku.

Waktu terus berjalan, kita sudah dewasa kini, dewasa dalam tubuh mini maksudnya๐Ÿ˜€. Ya, di usia SMP yang masih labil ini, aku masih saja mengaku-ngaku sudah gedhe, sudah boleh ini itu dan boleh ke sana kemari.ย  Ah tapi tampaknya kau masih saja begitu, terus bersikap cuek dan tak mau tahu. Hanya sekali, ya hanya sekali saja aku memergokimu tengah memandangku penuh arti, itu pun sekilas saja, beberapa saat menjelang pengumuman kelulusan.

Masih kuingat, saat berada di kelas yang sama di sebuah SMA negeri kota kita. Aku mendapati seraut wajah kaget darimu, pun denganku, ternyata kita satu SMA dan… satu kelas!! Jodohkah? Tiga tahun berlalu namun tak ada tanda-tanda kau memiliki rasa yang kurasa.ย  Kamu yang cerdas, kamu yang bintang basket, kamu yang diidolakan… segera aku tersadar bahwa kau semakin jauh dariku dan semakin tidak terjangkau olehku.

Kisah ini segera saja tenggelam oleh hiruk pikuk persiapan kelulusan. Bayanganmu pun berangsur patah berganti dengan kertas-kertas latihan dan lembar-lembar soal. Hingga akhirnya kisah ini harus berakhir tanpa ada permulaan.

23.00 WIB

Waktu di jam dinding kamarku menunjukkan malam telah larut. Aku menguap, antara lelah dan bahagia aku tak mampu mengira-ira mana yang paling kuat. Lekat kutatap wajahmu yang dulu kusimpan dalam hati rapat-rapat, tertidur dengan pulas di samping anak semata wayangku. Ah aku tak pernah tahu, hingga petang tadi kau mengatakannya kepadaku alasan menikahiku di tahun kedua kuliah kita,

“Aku menjagamu dengan mencintaimu di saat yang tepat”

======================================================

Diikutkan dalam sayembara agustus di cerita

27 responses

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s